Menurut Henry, tekanan tersebut menjadi perhatian pasar karena pemerintah masih memberikan subsidi energi, termasuk untuk BBM RON 90 atau Pertalite.
Kondisi itu membuat kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban fiskal apabila harga energi global bertahan tinggi.
Selain kekhawatiran fiskal, koreksi IHSG juga dipengaruhi aksi profit taking setelah pasar saham Indonesia menguat signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Investor cenderung mengambil posisi wait and see menjelang pertemuan Federal Reserve pekan ini di tengah kekhawatiran mengenai arah suku bunga AS.
Henry menilai koreksi IHSG saat ini masih bersifat sementara. IHSG telah menguat lebih dari 20% dalam tiga bulan sejak mencapai titik terendah pada Juni 2026, sehingga secara teknikal telah memasuki wilayah bull market.
"Setelah kenaikan yang cukup kuat tersebut, koreksi dan konsolidasi jangka pendek merupakan sesuatu yang wajar," katanya.
Meski demikian, Henry melihat prospek pasar saham Indonesia secara positif dalam jangka menengah hingga panjang.
Salah satu penopangnya adalah arus foreign direct investment (FDI) ke sektor infrastruktur digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia yang dinilai masih kuat.
Di saat yang sama, sejumlah grup konglomerasi domestik juga melakukan belanja modal besar untuk menangkap peluang pertumbuhan di sektor tersebut.
Indonesia dinilai memiliki posisi kompetitif sebagai tujuan investasi pusat data atau data center global.
"Indonesia memiliki posisi yang cukup unik dan kompetitif secara global sebagai tujuan investasi data center, didukung oleh harga lahan yang relatif menarik, ketersediaan pasokan listrik dan air yang stabil, serta kebijakan pemerintah yang semakin mendukung perkembangan industri digital dan data center," jelas Henry.
Dengan kondisi tersebut, Henry memperkirakan IHSG berpotensi kembali menuju level 7.000 pada akhir 2026 dan berpeluang mencetak rekor tertinggi baru atau all-time high pada 2027.
Dia juga menilai koreksi saham-saham terkait AI di pasar global belum mengubah prospek investasi infrastruktur AI di Indonesia. Sejumlah perusahaan AI global dan regulator memang mulai menyerukan perlambatan pengembangan teknologi AI dalam beberapa hari terakhir.
Namun, Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal siklus investasi infrastruktur AI. Karena itu, belanja modal untuk pembangunan data center dan infrastruktur digital diperkirakan tetap tinggi dalam 2-3 tahun ke depan, didukung permintaan yang masih kuat.
Henry pun melihat koreksi pasar pada pekan ini sebagai peluang akumulasi, terutama pada saham-saham yang memiliki eksposur terhadap pertumbuhan infrastruktur digital dan AI di Indonesia.
Faktor Global
Sementara itu, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pasar global menghadapi sejumlah headwinds, mulai dari gejolak pasar obligasi, akselerasi inflasi hingga ketidakpastian geopolitik.
Rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat atau US CPI Agustus yang naik 0,4% secara bulanan untuk headline dan 0,3% untuk core turut menjadi perhatian pasar.
Core CPI yang lebih tinggi dari konsensus meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed 25 basis poin menjadi 86,5% dari sebelumnya 69%.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish tersebut memicu aksi jual di pasar obligasi US Treasury. Imbasnya, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 4,975%, sedangkan tenor 2 tahun mencapai 4,644%.
Di pasar komoditas, harga Brent turun 2,94% ke US$104,47 per barel setelah sempat mendekati US$110. Sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 2,43% ke US$99,99 per barel.
Nafan menilai risiko gangguan pasokan minyak mentah masih perlu diperhatikan setelah East-West Pipeline Arab Saudi ditutup akibat serangan drone, disusul laporan ledakan di Yanbu yang merupakan salah satu hub energi strategis di pesisir Laut Merah.
"Dari sisi domestik, indikator makro ekonomi domestik seperti IKK yang terjaga dan stabilitas pasokan energi domestik menjadi faktor cushion bagi IHSG," ujar Nafan.
Apresiasi rupiah sebesar 0,21% ke level Rp17.641,5/US$ juga dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi pasar karena berpotensi mendukung foreign inflow dan mengurangi sikap defensif investor domestik.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp8 triliun dari 17,32 miliar saham ditransaksikan, dengan frekuensi terjadi 1,19 juta kali diperjualbelikan. Tercatat masih ada penguatan 144 saham, dan 517 saham melemah. Sisanya 122 saham stagnan.
Saham–saham energi, saham barang baku, dan saham infrastruktur utamanya menjadi pemberat IHSG dengan tertekan mencapai 3,06%, 2,87%, dan 2,62% begitu juga saham konsumen non primer drop 2,14%, disusul oleh pelemahan pada saham transportasi dengan melemah 1,97%.
Berdasarkan data Bloomberg, melemahnya IHSG merupakan efek langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps yang memiliki bobot besar terhadap Indeks terutama saham BYAN.
Adapun saham LQ45 lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) drop 5,74%, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) terpeleset 4,76%, dan saham PT Indosat Tbk (ISAT) juga melemah dengan kehilangan 4,12%.
(fik/naw)




























