Mitigasi 2027
Manajemen INCO menyatakan mitigasi dilakukan melalui penerapan strategi water management system pada PLTA yang memanfaatkan danau Matano, Mahalona, dan Towuti, serta rencana implementasi cloud seeding pada awal 2027 bila diperlukan.
Cloud seeding atau penyemaian awan merupakan teknik modifikasi cuaca untuk meningkatkan kemampuan awan dalam menghasilkan curah hujan dengan cara menaburkan bahan tertentu ke langit.
“Kondisi El Niño dan kekeringan di Sulawesi hingga saat ini tidak memberikan dampak terhadap operasi tambang maupun smelter PT Vale Indonesia,” tegas perwakilan manajemen INCO.
Adapun, Vale memiliki tambang di Blok Sorowako dengan luas 70.566 hektare yang terintegrasi dengan smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF). Smelter tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 180—216 ton nickel matte per hari.
Sumber energi smelter tersebut dipasok dari PLTA Larona, Balambano, dan Karebbe yang memanfaatkan aliran sungai Larona yang berasal dari danau Matano, Mahalona, dan Towuti.
Ketiga PLTA tersebut memiliki kapasitas terpasang 365 megawatt (MW), di mana sekitar 10,7 MW listrik yang dihasilkan juga disalurkan melalui PT PLN (Persero) untuk masyarakat Luwu Timur.
Sekadar informasi, Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA) mengatakan El Niño mengancam keandalan pasokan listrik untuk industri fasilitas pemurnian mineral (smelter) di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan.
Anggota Dewan Penasihat APPLTA Paul Butarbutar mengungkapkan saat ini sudah ada PLTA di wilayah tersebut yang mulai terdampak kekeringan, salah satunya PLTA Malea.
“Paling terdampak mungkin [PLTA] yang di Sulawesi. Di Sulawesi itu ada PLTA Malea sudah mulai terdampak kekeringan,” ungkap Paul saat dihubungi, Rabu (9/9/2026).
Meskipun ancaman kekeringan nyata, APPLTA mengonfirmasi pengusaha pembangkit hidro belum mengumpulkan data komprehensif mengenai tingkat penyusutan debit air secara menyeluruh pada pembangkit listrik di wilayah tersebut.
“Belum ada satu angka rata-rata nasional yang dipublikasikan secara resmi dan seragam untuk seluruh PLTA,” kata Paul.
Untuk diketahui, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki fleksibilitas pasokan energi berkat penerapan skema mix generation atau sistem pembangkitan campuran dari pelbagai sumber energi.
Kawasan ini mengandalkan pembangkit hidro seperti PLTA Bakaru yang berkapasitas 126 megawatt (MW), PLTA Malea 90 MW, dan PLTA Bili-Bili 20 MW, serta dukungan pasokan beban puncak dari PLTA terbesar yaitu PLTA Poso hingga 515 MW.
Adapun, porsi PLTA dalam struktur kelistrikan Sulawesi Selatan cukup besar yaitu menyumbang sekitar 37% atau setara 750 MW dari total kapasitas pasokan energi listrik regional.
“Ya memang, ada ketergantungan yang cukup besar pada sumber daya air ini, sehingga rawan saat kemarau,” tambah Paul.
Sebelumnya, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional, gegara turunnya pasokan listrik imbas PLTA kekurangan air.
Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi tersebut membuat PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja.
Kendati begitu, para pekerja yang dirumahkan disebut bakal tetap menjadi karyawan aktif dan mendapatkan hak serta kewajibannya.
Turunnya pasokan listrik gegara PLTA kekurangan air dikabarkan menyebabkan smelter RKEF 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.
Kalla Group selaku induk usaha PT BMS belum membalas permintaan konfirmasi dan tanggapan yang dikirimkan Bloomberg Technoz.
Di sisi lain, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
Dia menyatakan sumber daya air menjadi salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel HPAL, pabrik produksi kokas, serta pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi,” tegas Dedy.
Kendati begitu, dia menegaskan dampak dari fenomena El Niño tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP terhenti ataupun melakukan pengurangan tenaga kerja.
“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.
(azr/wdh)






























