Di sisi lain, guna memastikan kesiapan implementasi E10 dan E20 di tengah masyarakat, Kementerian ESDM kini tengah mematangkan uji teknis dan mengelar serangkaian diskusi bersama produsen, asosiasi, serta pengguna bahan bakar nabati.
Pemerintah juga berencana mengandalkan bahan baku lokal dengan mendorong peningkatan investasi industri bioetanol di dalam negeri sesuai amanat Peraturan Menteri ESDM.
Di samping itu, regulasi baru mengenai penetapan spesifikasi teknis bioetanol sedang disiapkan oleh pemerintah. Spesifikasi tersebut akan disesuaikan berdasarkan kadar campuran bahan bakar demi menjaga kinerja mesin kendaraan tetap optimal.
"Sehingga, secara regulasi kami sedang mempersiapkan penetapan spesifikasi bioetanol untuk campuran E10, ini akan juga berbeda dengan campuran untuk E20. Jadi seperti yang biodiesel tadi, B40 berbeda dengan B50," ungkapnya.
Sebelumnya, Kementerian ESDM secara resmi telah merilis persiapan teknis penerapan mandatori bensin dengan campuran bioetanol 20% alias E20 yang ditarget mulai berjalan penuh pada 2028.
"Kita ingin bersama-sama menyukseskan program, dan hari ini kita resmi kick-off persiapan teknis E20," ungkap Eniya dalam agenda IndoEBTKE Conex 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Eniya menjelaskan persiapan E20 menjadi fokus khusus pemerintah sejalan dengan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati nasional. Langkah ini mencakup pengonsolidasian para investor dan pengembang untuk menjamin ketersediaan bahan baku (feedstock).
"Ini juga menjadi perhatian kita yang khusus, karena kemarin Presiden sudah meluncurkan B50, lalu arahan Pak Menteri juga mempersiapkan bioetanol. Sehingga, dari forum ini kita ingin mengonsolidasikan para investor, para pengembang untuk menyediakan feedstock," tambahnya.
Ia menekankan bahwa potensi bahan baku bioetanol tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia. Berbeda dengan bahan baku biodiesel yang berpusat di wilayah tertentu seperti Sumatra dan Kalimantan.
"Jadi untuk feedstock, kalau bicara bioetanol, potensinya ada di seluruh negara kita. Gorontalo punya jagung, NTT tebu, Papua bisa bangun tebu, ketela bisa dihasilkan dari Sumatra Selatan khususnya, dan Jawa juga potensi tebunya banyak," katanya.
Adapun, untuk mendukung ketercukupan pasokan bahan baku E20, pemerintah memproyeksikan kebutuhan pembangunan sekitar 20 pabrik pengolahan baru di Tanah Air.
"Dan plan-nya di awal kita butuh sekitar 20 pabrik, dan berkapasitas kalau bisa lebih dari 40.000 kiloliter per tahun, sehingga kita bisa menyediakan untuk feedstock-nya E20," tegas Eniya.
(smr/ros)
































