Ibaratnya dalam konteks saat ini proyek kereta ini diserahkan oleh pemerintah ketika mengalami kerugian, padahal Whoosh merupakan proyek Business to Business sehingga nantinya kepemilikan Whoosh akan menjadi tidak jelas.
Yayat yang menyebut bahwa saat ini keuangan Whoosh sedang merugi meminta pemerintah untuk melihat terlebih dahulu kesehatan keuangan yang dimiliki oleh Whoosh. Ia juga meminta pemerintah untuk tidak cepat-cepat mengambil alih, melainkan mengecek transparansi keuangannya.
“Jadi pertanyaan itu tadi, terbuka dulu lah bagaimana kondisi keuangannya sehat atau sakit, sakit atau sakit sekali,” katanya.
Yayat juga mengkhawatirkan apabila proyek ini diambilalih oleh pemerintah, nasibnya tak akan lain dari Garuda Indonesia yang selalu membutuhkan intervensi. Sehingga, menurutnya ketimbang megambilalih Whoosh, sebaiknya pemerintah mempertimbangkan untuk mengembangkan kereta api di luar Pulau Jawa.
“Mendingan uangnya untuk bangun jalur-jalur kereta api seperti di Kalimantan, di Sumatera, yang diminta oleh Presiden Prabowo,” katanya.
Potensi Keuntungan
Yayat mengatakan bahwa sebenarnya potensi keuntungan mungkin bisa terjadi jika proyek tersebut dikembangkan hingga Surabaya.
Menurutnya dengan perpanjangan hingga Surabaya dan melewati berbagai kota besar, pundi-pundi keuntungan sebenarnya bisa diperoleh. Sementara saat ini Whoosh hanya sampai ke Bandung saja, sehingga keuntungan yang diperoleh tidaklah maksimal.
“Tapi kan harus ngutang lagi. Dari mana sih? Keuntungan-keuntungan itu kan sekarang aja rugi, terus mimpi keuntungan sampai kapan? Kalau kereta api cepat jarak pendek itu rugi memang, nggak dapet apa-apa,” katanya
Selain itu, seharusnya Whoosh juga mengoptimalkan Pendapatan non-farebox (non-tiket). Hingga saat ini menurutnya, pendapatan dari non farebox ini masih kurang maksimal seperti properti yang berada di sekitar jalur kereta api.
Menurutnya saat ini ini belum ada kejelasan terkait dengan pembangunan dan pola kerja bangunan residensial dan komersial di Stasiun Tegalluar dan Stasiun Karawang
“Jadi artinya konsep-konsep TOD atau konsep pengembangan yang terintegrasi itu kan tidak pernah diceritakan. Karena kesannya itu seakan-akan yang penting cepat jadi, yang penting operasional,” kata Yayat.
(ell)





























