Berkaca dari hilirisasi industri nikel, lanjut Putra, hanya kurang dari 1% produksi nikel Indonesia yang digunakan untuk produk baterai domestik. Dia khawatir industri hilir bauksit berupa aluminium bakal bernasib serupa, jika tidak terdapat pendalaman industri.
“Khawatirnya aluminium pun serupa bila tidak ada pendalaman industri yang serius kita hanya dapat investasi yang relatif dangkal dengan imbas lingkungan yang besar,” tegas Putra.
Surga Polusi
Dihubungi terpisah, ekonom energi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai Indonesia menjadi ‘surga polusi’ imbas pergeseran industri logam dari China ke Indonesia.
Sebagai contoh, lonjakan ekspor logam Indonesia ke China yang terjadi pada 2017—2024 membuat total emisi terkandung dalam ekspor naik sekitar 480.000 ton menjadi 4,76 juta ton emisi karbon.
“Artinya, tahap pengolahan yang kotor beserta emisinya berpindah ke Indonesia, sementara China mengonsumsi logam jadinya,” kata Yayan ketika dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Adapun, masifnya investasi China di sektor aluminium Indonesia yang menggunakan PLTU berbasis batu bara terjadi ketika sumber listrik terbesar di negara tersebut telah berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Kapasitas tenaga surya dalam bauran energi primer China mencapai 1.286 gigawatt (GW) per akhir Juli, mencakup 31,5% dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang, demikian dilaporkan China Central Television dengan mengutip data dari National Energy Administration setempat.
Sebelumnya, Dewan Kelistrikan China atau China Electricity Council telah mencatat kapasitas tenaga surya hanya tertinggal 1 GW di belakang batu bara pada akhir Juni.
Pembangkit listrik tenaga surya meningkat 15,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 802,4 miliar kilowatt-jam (kWh) pada tujuh bulan pertama 2026, yang mencakup sekitar seperdelapan dari total produksi listrik negara tersebut.
Indonesia diprediksi harus membangun PLTU batu bara captive dengan kapasitas total 8 GW untuk memasok listrik kebutuhan smelter alumina dan aluminium, termasuk milik investor China yang sedang getol berekspansi ke Tanah Air.
Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi oleh investor asal China, di mana sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.
CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.
Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.
"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan di masa depan,” kata Analis CREA Katherine Hasan dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.
Dia menyatakan jika seluruh smelter yang direncanakan dibangun sesuai rencana, industri aluminium di Tanah Air dapat menyebabkan ledakan penggunaan batu bara industri secara mandiri.
Dia menilai hal tersebut bakal melemahkan target dekarbonisasi nasional, mengunci pertumbuhan industri pada jalur berintensitas karbon tinggi, serta membebankan biaya lingkungan dan kesehatan pada masyarakat.
“Pemerintah seharusnya mewajibkan proyeksi kebutuhan energi komprehensif pada tahap pengembangan awal, serta memprioritaskan integrasi dengan jaringan dan energi terbarukan captive, seperti air dan surya, bukan batu bara,” tegas Katherine.
Tidak hanya China, Presiden Prabowo Subianto medio pekan lalu menyatakan raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal, berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.
Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.
“Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal,” kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Rusal sendiri merupakan salah satu perusahaan aluminium besar di dunia, di mana produksi aluminium dari perusahaan tersebut mencapai 3,91 juta ton pada 2025 dan setara sekitar 5,3% produksi aluminium dunia.
Namun, jauh sebelum rencana Rusal ingin berinvestasi di Indonesia, sejumlah perusahaan China sudah berbondong-bondong berinvestasi untuk membangun smelter aluminium di Indonesia.
Salah satu perusahaan China yang cukup ekspansif di sektor hilirisasi bauksit tersebut adalah Tsingshan Holding Group Co., perusahaan yang sebelumnya menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel.
Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara; tempat Weda Bay berada.
Belum lama ini, Tsingshan dikabarkan sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar di Indonesia.
(wdh)




























