Harga emas pun sah turun dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga turun 1,13% secara point-to-point.
Pelaku pasar saat ini sedang dalam posisi wait and see. Pekan ini, akan dirilis data inflasi di Amerika Serikat (AS) yang menentukan arah suku bunga acuan.
Apabila inflasi Negeri Adidaya masih ‘bandel’, belum menunjukkan sinyal melambat ke arah target 2%, maka bank sentral Federal Reserve sepertinya tidak akan ragu untuk menaikkan suku bunga acuan. Sebab, rasanya pasar tenaga kerja AS masih solid sehingga bisa bertahan dalam iklim suku bunga tinggi.
Mengutip CME FedWatch Tools, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% dalam rapat September saat ini ada di 60,4%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Jika inflasi masih tinggi, maka akan memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan mengetatkan kebijakan moneter. Saat harga emas turun ke bawah US$ 4.400/troy ons, maka koreksi bisa lebih dalam,” tegas Hebe Chen, Analis Senior di Vantage Markets, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)






























