Logo Bloomberg Technoz

Dalam unggahannya di Instagram pada Minggu (6/9), BMKG menjelaskan bahwa salah satu risiko paling serius abu vulkanik terhadap pesawat adalah kemungkinan menyebabkan mesin pesawat mati.

"Abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Jika terhisap masuk ke mesin pesawat yang sangat panas, abu akan meleleh dan menyumbat mesin hingga mati," tulisnya dalam unggahan tersebut.

Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari debu biasa. Material ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, serta kaca vulkanik berukuran sangat kecil yang terbentuk ketika gunung api mengalami letusan eksplosif.

Ukuran partikel abu vulkanik umumnya kurang dari 2 milimeter. Karena sangat halus, partikel tersebut dapat dengan mudah terbawa oleh aliran angin dan bergerak jauh dari lokasi gunung yang mengalami erupsi.

Ketika abu masuk ke dalam mesin pesawat yang memiliki temperatur tinggi, partikel dapat meleleh dan kemudian menempel pada bagian mesin. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kinerja mesin hingga menyebabkan mesin kehilangan daya.

Risiko terhadap penerbangan tidak hanya berkaitan dengan mesin. Abu vulkanik juga dapat mengganggu jarak pandang pilot karena partikel yang berada di atmosfer dapat membuat kondisi penerbangan menjadi lebih sulit.

BMKG menyebut gesekan partikel abu vulkanik dapat mengikis kaca kokpit pesawat. Kondisi tersebut dianalogikan seperti penggunaan amplas sehingga permukaan kaca dapat menjadi buram dan mengurangi kemampuan pilot untuk melihat kondisi di luar pesawat.

Gangguan lain dapat terjadi pada sistem navigasi pesawat. Abu vulkanik berpotensi menyumbat sensor yang digunakan untuk membaca kecepatan dan ketinggian pesawat.

Apabila sensor mengalami gangguan, informasi yang diterima sistem penerbangan dapat menjadi kurang akurat. Situasi ini tentu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan apakah penerbangan tetap dapat dilakukan atau perlu dihentikan sementara.

Dengan berbagai risiko tersebut, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan oleh pihak terkait. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama ketika sebaran abu mencapai wilayah sekitar bandar udara maupun jalur penerbangan.

Sebaran Abu Vulkanik GAK Meluas

Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta hasil analisis RGB Citra Himawari-9 pada Minggu (6/9) pukul 12.00 WIB, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua arah utama.

Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Area yang terdampak mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat beserta perairan di sekitarnya.

Sementara itu, sebaran kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang masuk dalam jalur sebaran tersebut meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Pola pergerakan tersebut menunjukkan bahwa abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebar ke wilayah yang cukup luas. Pergerakan material sangat dipengaruhi oleh kondisi angin sehingga area yang terdampak dapat berada jauh dari sumber erupsi.

Penyebaran abu yang meluas menjadi salah satu alasan operasional sejumlah bandar udara harus diperhatikan secara ketat. Gangguan tidak hanya berpotensi terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau, tetapi juga dapat memengaruhi wilayah lain yang berada di jalur pergerakan abu.

Bagi sektor penerbangan, informasi mengenai arah dan konsentrasi abu menjadi bagian penting dalam menentukan kondisi keamanan penerbangan. Data pemantauan dari lembaga terkait kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil langkah operasional.

Dampak Abu Vulkanik Tidak Hanya pada Penerbangan

BMKG menegaskan bahwa abu vulkanik memiliki dampak yang lebih luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Selain sektor transportasi dan penerbangan, material hasil erupsi juga dapat memengaruhi kesehatan, kualitas udara, aktivitas masyarakat, serta kondisi lingkungan.

Partikel yang berukuran sangat kecil memungkinkan abu bertahan dan berpindah mengikuti arah angin. Karena itu, masyarakat yang berada jauh dari lokasi erupsi tetap dapat merasakan dampaknya apabila wilayah mereka masuk dalam jalur sebaran abu.

Dalam konteks penerbangan, karakteristik tersebut menjadi perhatian khusus karena pesawat dapat melintasi wilayah yang tidak berada tepat di sekitar gunung api, tetapi masih terdampak sebaran abu vulkanik.

Penghentian sementara operasional di delapan bandar udara pada Minggu (6/9) menjadi langkah yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Keputusan itu menunjukkan bahwa keberadaan abu vulkanik perlu diperhitungkan secara serius untuk mengurangi potensi risiko terhadap penerbangan.

Dengan pemantauan yang terus dilakukan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik, kondisi operasional penerbangan dapat disesuaikan berdasarkan perkembangan terbaru. Informasi mengenai arah sebaran abu juga menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan penerbangan di wilayah terdampak.

Erupsi Gunung Anak Krakatau dengan demikian tidak hanya menjadi persoalan aktivitas vulkanik di sekitar gunung. Sebaran material erupsi yang dapat bergerak jauh melalui atmosfer turut membawa dampak terhadap berbagai aktivitas, termasuk penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia.

(seo)

No more pages