“Untuk wilayah lain seperti sekitar Gunung Semeru, Lewotobi Laki-laki, dan Ili Lewotolok, kami terus memantau kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Sejauh ini tidak terdapat gangguan terhadap penyaluran BBM,” tambahnya.
Siapkan Mitigasi
Sebagai langkah penanganan cepat, Pertamina Patra Niaga menyusun skenario mitigasi dan penyesuaian pola distribusi alternatif.
Penyesuaian skema penyaluran BBM akan segera diterapkan apabila terjadi penutupan akses jalan atau kondisi darurat di wilayah terdampak erupsi.
“Sebagai langkah mitigasi, kami terus melakukan pemantauan dan menyiapkan penyesuaian operasional apabila diperlukan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM kepada masyarakat tetap terjaga,” ujar Roberth.
Selain itu, koordinasi lintas instansi juga telah diperketat melalui Marketing Operation Region (MOR) di setiap wilayah terdampak.
MOR berkoordinasi secara aktif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemerintah Daerah (Pemda), serta Aparat Penegak Hukum (APH) guna mengantisipasi dinamika bencana dan menjamin kelancaran pasokan energi.
Untuk diketahui, aktivitas vulkanik di Indonesia kembali meningkat setelah beberapa gunung berapi mengalami erupsi simultan pada awal September 2026.
Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda (perbatasan Lampung dan Banten) tercatat mengalami erupsi eksplosif.
Pada saat yang bersamaan, Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, juga menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik berupa semburan abu vulkanik dan luncuran awan panas guguran.
Selain itu, aktivitas erupsi berulang juga tercatat pada Gunung Ili Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara.
Berdasarkan informasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, mayoritas gunung berapi yang aktif tersebut kini ditetapkan berada pada Status Siaga (Level III).
Masyarakat serta wisatawan diimbau untuk mematuhi zona bahaya dan radius aman yang telah ditentukan, seperti menjauhi area sektor tenggara Gunung Semeru sejauh 13 kilometer (km) dari puncak serta menghindari aktivitas di radius 5 km dari kawah Gunung Anak Krakatau.
(smr/wdh)





























