Logo Bloomberg Technoz

Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali menekan The Fed untuk memangkas suku bunga setelah melihat data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkirakaan analis dan ekonom turut mewarnai pasar dengan sentimen dovish

Pergerakan mata uang Asia belum sepenuhnya merespons dinamika di pasar AS itu. Di pasar yang sudah buka, won Korea Selatan dan yen Jepang menguat masing-masing 0,93% dan 0,24%. Sedangkan, yuan offshore menguat terbatas hanya 0,02%. 

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)

Akan tetapi bagi rupiah, kombinasi kenaikan harga minyak dunia, dan sinyal hawkish yang dikirim oleh The Fed dan data ekonomi AS itu berpotensi menekan rupiah dan mempersempit ruang bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah suku bunga acuan bulan ini. 

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak bukan cuma masalah harga komoditas. Sebab, sebagai negara yang masih memiliki kebutuhan impor energi, kenaikan harga minyak yang bertahan tinggi ini berpotensi meningkatkan biaya impor dan menciptakan tekanan imported inflation.

Hal ini sudah terjadi pada kenaikan biaya energi yang terjadi pada kuartal II-2026 yang telah merembet ke biaya transportasi, logistik, dan kenaikan harga barang lainnya. Inflasi pada Agustus tercatat 3,19%, naik dari inflasi Juli yang sebesar 2,88%. 

Tekanan lainnya bagi Indonesia juga datang dari kejadian bencana alam yang menimpa secara serempak, termasuk aktivitas erupsi dari Gunung Anak Krakatau. Dampak erupsi itu turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan adanya terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok, khususnya ke wilayah barat Indonesia. 

Pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama. 

Di tengah sejumlah faktor penekan baik dari sisi domestik dan eksternal, rupiah berpotensi kembali terkonsolidasi di rentang Rp17.650-17.750/US$. 

Analisis Teknikal 

Analisis Teknikal Rupiah Senin 7 September 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, tukar rupiah berisiko melemah hari ini. Support terdekat menuju level Rp17.660/US$ dengan target pelemahan selanjutnya akan tertahan di Rp17.700/US$.

Apabila kembali menjebol kedua support tersebut, maka mata uang Nusantara bisa melemah lebih dalam menuju level Rp17.800/US$ sebagai support terkuatnya.

Namun jika rupiah mampu menguat, maka menarik dicermati area level Rp17.600/US$ dan selanjutnya Rp17.550/US$ secara potensial. Lebih lanjut, ada resistance Rp17.500/US$.

(riset/aji)

No more pages