Angkatan Laut AS telah membantu memastikan kapal-kapal komersial dapat melintas dengan aman melalui Selat Hormuz. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran, jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Ketika ditanya CNN apakah operasi Angkatan Laut AS tersebut akan menjadi “normal baru” di Selat Hormuz, Wright mengakui, “Ya, saat ini memang begitu.”
“Namun, jika melihat ke depan, negara-negara lain akan datang dan bekerja sama dengan kami dalam upaya ini,” lanjut Wright. “Tentu saja, perdagangan dunia sangat penting. Seharusnya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat, tetapi sampai Iran mengubah sikapnya atau mengubah pemerintahannya, kami harus menghadapinya.”
Menjaga kelancaran arus minyak tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan energi dunia sekaligus melindungi perekonomian global yang telah terpukul akibat perang Iran.
Isu tersebut juga menjadi persoalan politik penting di AS ketika Donald Trump berupaya meredam kekhawatiran pemilih mengenai kenaikan harga berbagai barang konsumsi menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Harga bahan bakar di AS melonjak, dengan harga rata-rata bensin tanpa timbal mencapai US$4,15 per galon pada Jumat. Angka tersebut merupakan rekor untuk September dan jauh di atas US$3,80 yang dibayarkan pengendara pada 4 Juli, yang biasanya menjadi puncak musim berkendara musim panas, menurut organisasi otomotif AAA. Harga diesel juga naik ke rekor US$5,88 per galon.
Wright mengatakan harga bensin tanpa timbal masih berpeluang turun setelah musim berkendara musim panas berakhir dan setelah perubahan kebijakan pencampuran bahan bakar federal yang ditujukan untuk meningkatkan pasokan. Perusahaan pengolahan bahan bakar telah mendesak pemerintah mengambil langkah lebih jauh dengan melonggarkan kewajiban pencampuran bahan bakar nabati yang menurut mereka turut mendorong kenaikan harga di SPBU.
Sementara negara-negara lain sebagian besar enggan bergabung dalam operasi untuk mendukung pelayaran melalui Selat Hormuz, media Korea Selatan baru-baru ini melaporkan bahwa pemerintah sedang mengkaji kemungkinan operasi militer untuk membantu menjaga kelancaran arus tersebut. Inggris dan Prancis sebelumnya mengusulkan misi multinasional untuk membersihkan ranjau serta mendukung pelayaran sipil di selat tersebut.
Wright tidak menyebutkan negara mana saja yang berpotensi bergabung dalam operasi tersebut. Untuk saat ini, katanya, Angkatan Laut AS masih menjadi pihak utama.
“Ya, Angkatan Laut AS yang memastikan arus ini tetap berjalan,” kata Wright dalam program Fox News Sunday. “Kami berharap Iran berhenti melakukan apa yang mereka lakukan, tetapi kami terus mengurangi kemampuan mereka untuk melakukannya dan semakin mampu mempertahankan diri dari serangan mereka. Jadi, ini adalah permainan yang akan merugikan Iran.”
(bbn)






























