Logo Bloomberg Technoz

Harga emas pun genap naik dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terangkat hampir 4%.

Pelemahan nilai tukar dolar AS jadi ‘jamu’ kuat bagi emas. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,62% ke 98,969, terendah sejak 25 Agustus.

Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Depresiasi mata uang Negeri Paman Sam akan membuat emas jadi menarik buat investor yang memegang mata uang lain.

Pelemahan dolar AS disebabkan oleh pernyataan terbaru dari pejabat teras bank sentral Federal Reserve. Anggota Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller menyebut, arah kebijakan suku bunga akan ditentukan oleh data inflasi yang akan dirilis pekan depan.

“JIka ada perkembangan yang menunjukkan bahwa inflasi menuju target 2%, maka saya akan mendukung untuk mempertahankan suku bunga acuan. Namun jika inflasi ‘memanas’, maka saya akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan,” tegas Waller dalam acara yang dihelat Reuters, sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.

Waller menambahkan, kebijakan yang diterapkan saat ini mampu meredam laju ekonomi. Tujuannya adalah agar inflasi tidak makin ‘liar’.

“Walau inflasi masih cukup jauh di atas target 2%, tetapi sejumlah data terkini menunjukkan bahwa ada sinyal disinflasi. Kenaikan harga energi belum melebar ke harga-harga lain, sehingga inflasi masih masuk akal,” jelasnya.

Pernyataan Waller membuat pasar kian mengkalibrasi perkiraan arah suku bunga acuan. Mengutip CME FedWatch, peluang Federal Funds Rate bertahan di 3,5-3,75% dalam rapat September adalah 49,8%. Melonjak dari posisi kemarin di 36,8%.

Menipisnya peluang kenaikan suku bunga acuan membuat dolar AS tertekan. Saat dolar AS masuk ‘pitstop’, emas pun berhasil menyalip.

(aji)

No more pages