Pelaku pasar akan mencermati angka ketenagakerjaan AS yang akan tercermin pada data Nonfarm Payrolls yang dirilis malam ini pukul 19:30 WIB. Data ini akan menjadi rujukan bank sentral AS Federal Reserve dalam mempertimbangkan tingkat suku bunga acuan
Dengan inflasi yang tinggi di 3,5%, sejatinya The Fed mempertimbangkan untuk mengerek suku bunga acuan. Namun, jika pasar tenaga kerja mengirim sinyal sebaliknya, maka ada kemungkinan The Fed memilih untuk mempertahankan Federal Funds Rate.
Bloomberg Economics memperkirakan nonfarm payrolls Agustus hanya bertambah 12.000. Memang membaik dari kontraksi 23.000 pada Juli, tetapi masih jauh di bawah laju penciptaan lapangan kerja pada musim semi yang sempat berada di atas 100.000.
Di sisi lain, pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 4,26% dari 4,1%. Kenaikan tersebut semakin penting bagi The Fed lantaran terjadi bersamaan dengan lemahnya penciptaan lapangan kerja.
Tingkat partisipasi angkatan kerja memang diperkirakan sedikit pulih menjadi 61,47%, tetapi angka jumlah pengangguran tetap menunjukkan bahwa kondisi pasar kerja AS sejatinya kurang solid.
Kondisi ini sedikit memberi ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk mendapat angin segar. Namun lantaran harga minyak masih melambung, ini bisa menjadi beban gerak mata uang di kawasan dan membuat penguatan itu lebih terbatas.
Pada 07:57 WIB, mata uang Asia mendapat tenaga lebih banyak. Baht Thailand menguat 0,29%, disusul ringgit Malaysia 0,11%, dan yen Jepang kembali menguat 0,06% bersama dolar Singapura 0,04%. Sementara, won Korea Selatan melemah 0,04% dan dolar Hong Kong 0,01%.
Meski begitu, kenaikan harga minyak masih berpotensi menahan gerak rupiah. Sebab, kenaikan harga minyak terus mengungkit risiko pelebaran defisit neraca perdagangan karena adanya kebutuhan impor energi yang tinggi.
Di tengah sentimen ini, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berpotensi bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan defensif. Pelaku pasar akan menunggu data ketenagakerjaan AS sebagai katalis utama.
Jika data ketenagakerjaan benar-benar di bawah ekspektasi ekonom, ruang penguatan bagi rupiah berpotensi terbuka ke area Rp17.600/US$, meski penguatan itu mungkin tak berlangsung secara agresif selama harga minyak dan risiko geopolitik masih membayangi.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah sebenarnya masih berpotensi melanjutkan penguatan usai keberhasilan menembus level resistance sMA-20 potensialnya.
Rupiah punya target penguatan lanjutan menuju Rp17.600/US$ hingga Rp17.550/US$. Level selanjutnya berpeluang menguat bertahap sampai dengan Rp17.500/US$.
Namun jika rupiah malah melemah, maka support terdekat dapat berbalik arah ke posisi Rp17.700/US$. Rentang laju rupiah dalam support berada di antara Rp17.740/US$ hingga Rp17.780/US$.
(riset/aji)




























