Hubungan ekonomi kedua negara menyusut dalam beberapa tahun terakhir akibat sanksi AS. India tidak mengimpor minyak mentah dari Iran sejak 2019, kecuali dalam periode singkat tahun ini setelah AS memberikan pengecualian. Sebelum sanksi diberlakukan, Iran merupakan salah satu pemasok minyak terbesar bagi India.
Perdagangan di sejumlah sektor utama, termasuk ekspor beras ke Teheran, tetap bertahan. Pengiriman masih berlangsung meski harga meningkat dan gangguan akibat perang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Pertemuan dengan Putin
Modi juga dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin, kembali menyoroti salah satu hubungan lama India dalam pertemuan SCO. Presiden China Xi Jinping dan Putin juga diperkirakan bertemu di sela-sela KTT tersebut. Keduanya telah bertemu sekitar 10 kali sejak Rusia menginvasi Ukraina empat setengah tahun lalu.
India mengambil posisi hati-hati terhadap perang di Ukraina. New Delhi menyerukan penghentian pertempuran, tetapi enggan mengkritik invasi Rusia dan memilih abstain dalam pemungutan suara PBB yang mengecam perang tersebut. Ketika Putin mengunjungi India pada Desember lalu, dalam kunjungan pertamanya ke negara itu selama hampir empat tahun, kedua pihak mengatakan hubungan Rusia-India “tetap tangguh menghadapi tekanan eksternal”.
Putin juga diperkirakan mengunjungi New Delhi bulan depan untuk menghadiri KTT BRICS.
India dan Rusia menjadi salah satu dari lima mitra dagang terbesar satu sama lain sejak 2022, ketika New Delhi meningkatkan pembelian minyak dari Rusia. Total perdagangan bilateral mencapai hampir US$60 miliar (Rp1.066,2 triliun) pada tahun fiskal India 2026, turun sekitar 13% dari rekor pada 2024-2025. Kedua negara menargetkan peningkatan perdagangan bilateral menjadi US$100 miliar (Rp1.777,7 triliun) pada akhir dekade.
Rusia juga merupakan pemasok senjata utama bagi New Delhi. Militer India memiliki ratusan jet tempur buatan Rusia serta sejumlah sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara S-400 yang digunakan selama konflik empat hari dengan Pakistan pada Mei 2025.
SCO
Shanghai Cooperation Organization didirikan pada 2001 oleh China dan Rusia bersama negara-negara Asia Tengah, yakni Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgizstan. Keanggotaannya kemudian meluas hingga mencakup India, Pakistan, Iran, dan Belarus. Afghanistan dan Mongolia berstatus pengamat, sementara 15 negara lainnya, termasuk Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Uni Emirat Arab, berstatus “mitra dialog”.
Negara-negara anggota organisasi tersebut mencakup lebih dari 40% populasi dunia dan sekitar seperempat produk domestik bruto (PDB) global, berdasarkan data Bank Dunia.
(bbn)





























