Kinerja Keuangan
BBRI membukukan laba bersih sebesar Rp31,18 triliun pada semester I-2026. Capaian tersebut tumbuh 17,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp26,53 triliun. Laba per saham meningkat menjadi Rp205 dari yang sebelumnya Rp174.
Pertumbuhan laba ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih. Pada enam bulan pertama 2026, BBRI mencatat pendapatan bunga bersih sebesar Rp80,53 triliun, tumbuh 9,9% dibanding dengan Rp73,27 triliun pada periode yang sama di tahun lalu.
Sementara pendapatan bunga tercatat Rp107,92 triliun, meningkat dari Rp102,38 triliun pada semester I-2025. Selain itu, pendapatan jasa asuransi bersih BBRI dan entitas anak turut bertumbuh signifikan menjadi Rp648,69 miliar, dari yang sebelumnya Rp437,11 miliar pada semester I-2025.
Dari sisi intermediasi, total kredit konsolidasian BBRI mencapai Rp1.580,42 triliun per Juni 2026, melaju dalam tren positif dari yang sebelumnya Rp1.460,73 triliun. BBRI juga mencatat pembiayaan syariah sebesar Rp61,21 triliun dan piutang pembiayaan Rp3,90 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut berjalan seiring dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK). Simpanan giro tercatat Rp449,57 triliun, tabungan Rp619,1 triliun, dan deposito berjangka Rp512,02 triliun per Juni 2026.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross BBRI berada di 3,15% per Juni 2026, membaik dibanding dengan 3,23% pada Juni 2025. Adapun total aset konsolidasian mencapai Rp2.352,38 triliun, meningkat dari Rp2.135,37 triliun pada akhir 2025.
Di sisi permodalan, rasio KPMM konsolidasian tercatat 22,68%, sementara CET 1 ratio berada di 20,42%.
(fad/aji)
































