Para pendukung Chavismo—gerakan politik yang didirikan oleh mendiang Presiden Hugo Chávez dan sebagian besar dibangun di atas prinsip kendali negara terhadap minyak Venezuela—memiliki alasan tersendiri untuk marah kepada Rodríguez.
Kedua jenis kritik tersebut mencuat di media sosial segera setelah pengumuman di Washington pada Jumat malam. Sebagian warganet menuduh Rodríguez menyerahkan minyak negara, sementara yang lain mempertanyakan mengapa baik Trump maupun Rodríguez tidak menyertakan komitmen terkait pemilihan umum atau transisi demokrasi dalam kesepakatan ekonomi tersebut.
"Namun, hal ini juga menjadi tantangan politik bagi Delcy, mengingat adanya sensitivitas seputar nasionalisme sumber daya dan persepsi bahwa ia mengkhianati prinsip-prinsip Chavismo dengan menyerahkan sumber daya yang berharga," kata Grais-Targow.
Kesepakatan tersebut dinegosiasikan tanpa melibatkan pihak oposisi Venezuela, menurut sumber-sumber yang mengetahui masalah ini. María Corina Machado, tokoh oposisi paling terkemuka, tidak dilibatkan dalam pembahasan tersebut, ujar mereka. S
elama kampanye pemilihan presiden Venezuela tahun 2024, Rodríguez—yang saat itu bersekutu dengan mantan Presiden Nicolás Maduro—menuduh Machado menerima perintah dari "tuan-tuan" di AS dan mengincar kursi kepresidenan agar bisa menyerahkan minyak Venezuela. Kini, Rodríguez menghadapi serangan serupa.
Kelompok Chavista garis keras bereaksi dengan marah terhadap pengumuman hari Jumat tersebut—berdasarkan diskusi pesan teks yang dibagikan oleh para pesertanya—dengan mempertanyakan legalitasnya dan menyebutnya di media sosial sebagai tindakan melepaskan kedaulatan. Sebagian pihak mengatakan bahwa Venezuela pada dasarnya dipaksa menyerahkan minyak akibat ancaman AS.
Ini adalah momenTUM yang sensitif bagi Rodríguez, yang popularitasnya merosot dalam jajak pendapat setelah respons pemerintah yang dinilai lambat terhadap dua gempa bumi mematikan yang menewaskan lebih dari 6.500 orang pada bulan Juni.
Hal itu dapat mempersulit upayanya untuk menyeimbangkan hubungan yang kian erat dengan Washington di tengah gerakan politik yang selama puluhan tahun dibangun di atas fondasi nasionalisme sumber daya dan perlawanan terhadap pengaruh AS.
Selama ini, daya tawar besar yang dimiliki Trump atas Rodríguez dapat dipandang sebagai alat untuk menuntut konsesi politik dari pemerintahannya. Negosiasi baru-baru ini mulai membuahkan hasil nyata, termasuk persetujuan awal Majelis Nasional terhadap perombakan proses pemilihan hakim Mahkamah Agung yang didukung AS.
Kesepakatan minyak ini membuka peluang bagi skenario berbeda di mana perusahaan AS, investor, dan pada akhirnya pemerintah Washington mengembangkan kepentingan ekonomi dalam stabilitas yang dihadirkan oleh Rodríguez, ujar analis politik Benigno Alarcón.
Seiring perusahaan-perusahaan AS menanamkan modal miliaran dolar di Venezuela, kata Alarcón, AS mungkin secara bertahap beralih dari mendukung "transisi yang stabil" menjadi memprioritaskan "stabilitas yang tetap menjaga opsi terjadinya transisi."
Beberapa anggota partai Machado sudah mempertanyakan apakah kesepakatan apa pun yang ditandatangani oleh Rodríguez akan tetap berlaku jika terjadi transisi politik di masa depan.
"Apa pun yang ditandatangani Delcy Rodríguez tidak memiliki keabsahan sama sekali," ujar José Amalio Graterol, anggota partai Vente pimpinan Machado. "Dia mungkin menandatanganinya bersama Donald Trump, tetapi kesepakatan itu tidak akan pernah sah karena dia tidak memiliki legitimasi yang sesungguhnya."
Francisco Monaldi, direktur kebijakan energi Amerika Latin di Baker Institute for Public Policy, Rice University, Houston, mempertanyakan ketentuan ekonomi yang diungkapkan oleh Rodríguez dan menyebut kurangnya transparansi terkait kebijakan minyak Venezuela sebagai hal yang "sangat mengkhawatirkan." Menurut Monaldi, pendapatan pajak sebesar US$209 miliar yang diperkirakan akan dihasilkan oleh proyek-proyek tersebut setara dengan sekitar US$3,20 untuk setiap barel dari total 65 miliar barel yang tercakup dalam perjanjian itu.
Ia menambahkan, jika angka tersebut merupakan pendapatan nominal yang dihimpun selama masa berlaku proyek, maka nilai kininya akan jauh lebih kecil.
Rodríguez mungkin akan menghadapi tantangan yang jauh lebih pelik dari para pendukung Chavismo.
Mantan anggota parlemen dari kubu kiri, Willian Rodríguez, mengutip pernyataan Chávez—yang wafat pada tahun 2013—dalam kritik tajamnya terhadap kesepakatan dengan Trump. "Minyak itu milik kita, dan berkat minyak itulah kita merebut kembali tanah air kita," ujarnya mengutip perkataan Chávez.
"Kesepakatan ini justru melakukan hal yang sebaliknya: menyerahkan tanah air dan melepaskan takdir nasional kita," kata Rodríguez. "Tidak ada cara untuk mempercantik kenyataan ini."
(bbn)






























