Penjualan ini menyusul transaksi sebelumnya untuk minyak mentah dengan kandungan belerang tinggi—yang dapat dimuat di lepas pantai Oman mulai bulan ini—yang juga ditujukan ke China, ujar mereka.
Aramco berhasil mengirimkan minyak mentah dalam jumlah besar dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas normal, tetapi pipa saluran timur-barat yang terhubung ke pelabuhan tersebut hanya mengangkut jenis minyak mentah yang lebih ringan.
Kini, perusahaan tersebut menjual minyak mentah jenis lebih berat dengan cara mengalirkannya melalui Selat Hormuz.
"Perusahaan kilang China kini lebih bersedia menerima pasokan minyak dari Timur Tengah jika pengalihannya dapat dilakukan di luar zona berisiko tinggi," ujar Emma Li, analis utama pasar China di perusahaan analitik Vortexa, dalam sebuah catatan.
Jika tren ini berlanjut, "hal tersebut dapat membuka kembali jalur perdagangan tradisional Timur Tengah-China tanpa mengharuskan kapal-kapal China melintasi" perairan berbahaya seperti Selat Hormuz, katanya.
Pembelian di pasar spot ini terjadi setelah penjualan kontrak jangka panjang Arab Saudi ke China merosot akibat gangguan di Selat Hormuz.
Seperti Arab Saudi, negara-negara Teluk Persia lainnya—termasuk Irak dan Qatar—juga telah meningkatkan ekspor minyak mentah, di mana sebagian dari pasokan tambahan tersebut diserap oleh perusahaan kilang China
Perusahaan kilang seperti PetroChina mengambil setidaknya 2 juta barel minyak jenis Al-Shaheen dan Marine dari Qatar setelah minyak tersebut ditawarkan di lokasi di luar Selat Hormuz.
China juga baru-baru ini membeli jutaan barel minyak mentah Basrah dari Irak serta minyak dari tender terbaru Abu Dhabi National Oil Co.
Juru bicara Aramco menolak berkomentar. Perwakilan PetroChina tidak segera menanggapi pos-el yang meminta tanggapan.
"Ekspektasi akan ketatnya pasokan dalam jangka panjang mendorong aktivitas pembelian yang lebih intens, alih-alih ketergantungan berlebih pada pengurangan stok," ujar Muyu Xu, analis senior minyak mentah di Kpler.
Meskipun China aktif berpartisipasi dalam serangkaian tender spot untuk bahan bakar dari Timur Tengah belakangan ini, kecil kemungkinannya arus minyak mentah secara keseluruhan ke negara tersebut akan kembali ke tingkat sebelum perang.
Para analis di Rystad Energy, Energy Aspects, dan FGE NexantECA memperkirakan volume pembelian akan meningkat hingga mencapai kisaran 1,2 juta barel per hari—sehingga totalnya menjadi sedikit di bawah 10 juta barel per hari—pada kuartal terakhir tahun ini.
Sebagai perbandingan, China mengimpor antara 12 juta hingga 13 juta barel per hari pada tahun lalu.
(bbn)






























