"Untuk mempercepat pemadaman dan pencegahan penyebaran api, BP Indonesia telah berkoordinasi dengan otoritas sektor migas dan penanggulangan bencana termasuk dengan SKK Migas serta Kementerian ESDM," ungkapnya.
Selain itu, BP Indonesia juga menjalin kerja sama erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, aparat keamanan setempat, dan masyarakat sekitar.
Dia menegaskan keselamatan pekerja, kontraktor, dan warga lokal yang bermukim di sekitar area operasi kilang menjadi fokus penanganan utama saat ini.
Untuk itu, seluruh infrastruktur proteksi dan prosedur tanggap darurat terbaik diturunkan untuk menjaga integritas serta keamanan kilang gas alam cair tersebut.
Wigra menambahkan tim di lapangan tidak berhenti melakukan pengawasan ketat selama 24 jam penuh. Pemantauan secara berkala terus dilakukan untuk memantau pergerakan angin dan potensi munculnya titik api baru.
“Kami akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait guna memastikan respons yang cepat, aman, dan terkoordinasi,” katanya.
Untuk diketahui, peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda wilayah Distrik Sumuri dan Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, persis di sekitar area fasilitas LNG Tangguh yang dikelola oleh BP Berau Ltd.
Kebakaran ini terdeteksi sejak Jumat malam, (2/8/2026), dan mengobarkan kobaran api serta asap tebal di areal semak belukar hingga lokasi luar pagar perimeter kilang gas.
Ancaman tersebut menjadi perhatian serius karena pergerakan titik api sempat meluas dan berada cukup dekat dengan objek vital nasional tersebut.
Kebakaran terjadi akibat paparan kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan yang memicu munculnya titik api pada areal lahan vegetasi semak di luar kompleks produksi.
Mengingat lokasi yang terdampak sangat sensitif dan berisiko tinggi terhadap keselamatan pekerja serta kontinuitas pasokan energi nasional, langkah tanggap darurat langsung diaktifkan oleh pihak operator bersama otoritas terkait.
Adapun dalam laporan terbaru, BNPB Papua Barat, telah melakukan upaya pembentukan sekat bakar (firebreak) di area perimeter untuk menahan laju persebaran api agar tidak merembet ke infrastruktur utama produksi gas.
Dalam merespons kendala medan darat yang membentang luas dan sulit dijangkau armada darat, BNPB juga telah memprioritaskan operasi pemadaman dari udara (water bombing).
Selain itu, koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga disiapkan untuk skenario Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memancing hujan buatan di atas wilayah terdampak.
(smr/wdh)






























