Logo Bloomberg Technoz

Wilayah Sumatra mencatatkan rentang penyaluran sebesar 60,97% hingga 73,03%, sedangkan kawasan Jawa-Bali berada pada kisaran 61,67% hingga 70,68%.

Sementara itu, tren lonjakan penyaluran di wilayah Nusa Tenggara mencapai 65,31% hingga 67,28%, Kalimantan sebesar 63,47% hingga 69,85%, dan Sulawesi berkisar antara 62,87% hingga 70,53%. 

Adapun, untuk kawasan Indonesia timur, penyaluran di Maluku dan Papua tercatat bergerak di rentang 63,08% hingga 71,07%.

Ia menguraikan bahwa secara rata-rata tahunan (year-to-date), laju penyaluran nasional idealnya berada di kisaran 63,9%. Jika persentase penyaluran di suatu daerah melampaui angka acuan tersebut, hal itu mengindikasikan bahwa konsumsi Solar subsidi di tengah masyarakat mengalami peningkatan pesat.

“Hal ini kalau kita ratakan year-to-date, kurang lebih penyaluran itu normalnya sekitar 63,9%. Jadi kalau di atas 63,9%, berarti indikasi kenaikan konsumsi masyarakat semakin meningkat,” jelasnya.

Meski begitu, berbeda dengan kondisi Solar subsidi yang terancam melampaui kuota, BPH Migas mencatat bahwa pasokan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite dan JBT Minyak Tanah masih berada dalam ambang batas aman. 

Wahyudi memproyeksikan alokasi minyak tanah sebesar 0,53 juta Kl, dengan realisasi penyaluran saat ini baru menyerap 0,33 juta Kl. Sementara untuk Pertalite, dari total proyeksi 29,27 juta Kl, realisasi penyalurannya baru mencapai 18,23 juta Kl.

"Minyak tanah, kita memprognosakan sesuai dengan alokasi yang ditetapkan adalah 0,53 juta kiloliter, dan realisasi saat ini 0,33 juta kiloliter. Jadi masih cukup aman,” paparnya. 

“Lalu JBKP Pertalite, realisasi penyaluran JBKP Pertalite ini kita prognosakan di 29,27 juta kiloliter, dan realisasi saat ini 18,23 juta kiloliter. Posisi Pertalite juga cukup aman," tambahnya.

Wahyudi menegaskan bahwa secara umum pasokan minyak tanah di seluruh daerah masih sangat terkendali. Meski terdapat sedikit wilayah yang mencatatkan tingkat konsumsi melebihi proyeksi awal, ketersediaan pasokan secara keseluruhan dipastikan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat.

“Ini penting, dan posisi alokasi yang saat ini seyogyanya disalurkan cukup aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Terkecuali untuk minyak tanah, BPH Migas tetap memberikan perhatian khusus pada tren konsumsi Pertalite di tingkat daerah. 

Wahyudi membeberkan bahwa meski secara nasional alokasi Pertalite berada dalam kondisi aman, beberapa provinsi di Sumatra, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua mulai menunjukkan kenaikan konsumsi di atas target bulanan.

“Namun, ada beberapa provinsi yang posisinya melebihi, yaitu sebagian dari Sumatra, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua. Ini posisinya ada sebagian dari provinsi tersebut juga mengalami kenaikan. Namun, kaitannya dengan alokasi yang telah diberikan, insyaallah itu cukup untuk disalurkan kepada masyarakat,” jelas Wahyudi.

(smr/ros)

No more pages