Mega merinci bahwa potensi lonjakan penyaluran masing-masing komoditas tersebut diperkirakan mencapai sekitar 9,4% untuk Solar; 1,7% untuk Pertalite; dan 8,5% untuk LPG 3 kg.
“Namun, data yang kami miliki adalah sekitar 9,4% untuk Solar; 1,7% untuk Pertalite; dan 8,5% untuk LPG 3 kilogram,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa peningkatan konsumsi Solar dan Pertalite berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester pertama 2026 yang berkisar antara 5-5,6%.
“Pertumbuhan ini didorong oleh geliat sektor industri, aktivitas logistik, serta kegiatan ekspor-impor. Selain itu, peningkatannya juga dipicu oleh bertambahnya populasi kendaraan pribadi, maraknya aktivitas pariwisata domestik, masuknya musim panen dan melaut pada semester kedua, serta tingginya kebutuhan sektor transportasi publik,” jelasnya.
Sementara itu, Mega menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi LPG 3 kg terutama disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk nasional, laju pertumbuhan ekonomi, serta kebutuhan untuk mengamankan stok energi menjelang periode Natal dan Tahun Baru.
Guna mengendalikan potensi pembengkakan penyaluran, Pertamina telah menerapkan sejumlah langkah strategis. Langkah tersebut meliputi penerapan penuh sistem QR Code untuk transaksi Solar dan Pertalite di 514 kabupaten/kota serta digitalisasi di lebih dari 8.000 SPBU.
Khusus untuk LPG 3 kilogram, Pertamina telah mendaftarkan 79,7 juta NIK konsumen ke dalam sistem Subsidi Tepat serta mencocokkan data tersebut dengan data Dukcapil dan DTKS.
“Pertamina tentunya terus berkomitmen untuk terus menjalankan penugasan ini dengan menjunjung prinsip Good Corporate Governance [GCG] serta berkoordinasi erat dengan BPH Migas dan Kementerian ESDM agar penyaluran tetap tepat sasaran, terkendali, dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Sebagai informasi, Kementerian Keuangan bersama Kementerian ESDM telah menetapkan total alokasi kuota Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP/Pertalite) dan Jenis BBM Tertentu (JBT/Solar dan Minyak Tanah) tahun 2026 sebesar 48,43 juta KL.
Porsi terbesar didominasi oleh Pertalite dengan perkiraan penyaluran mencapai 30 hingga 31 juta KL, disusul kuota Solar sebesar 18,63 juta KL, dan minyak tanah sebesar 526 ribu KL.
Di sektor LPG 3 kg, alokasi awal APBN 2026 ditetapkan sebesar 8 juta MT dengan perkiraan beban anggaran subsidi dan kompensasi mencapai Rp90,4 triliun hingga Rp105,4 triliun.
Adapun, untuk menekan resiko defisit anggaran akibat ketergantungan pada impor LPG, Kementerian Keuangan mendorong transformasi skema subsidi LPG 3 kg dari berbasis barang menjadi berbasis penerima manfaat yang terintegrasi dengan data kependudukan nasional.
(smr/ros)






























