"China ingin konflik ini terkendali, tetapi mereka tidak punya banyak alasan untuk membantu Trump mengakhirinya tanpa menerima balasan yang sepadan," ujar Jesse Marks, pendiri Rihla Research & Advisory yang juga mantan penasihat kebijakan Timur Tengah di pemerintah AS.
Bagi Xi, ada keuntungan tersendiri ketika Trump berfokus pada Iran. AS bulan ini mengerahkan kembali satu-satunya kapal induk yang berbasis di Asia ke Timur Tengah, sementara pasukan Amerika belakangan menunda latihan militer bersama Korea Selatan (Korsel) karena keterbatasan personel yang dikerahkan ke kawasan sekitar Iran. Hal ini dapat memberikan ruang yang lebih leluasa bagi China seiring langkah Beijing yang terus mempertegas klaim wilayahnya di Laut China Selatan dan sekitar kawasan Taiwan.
Meskipun Xi tidak akan memutuskan hubungan dengan Teheran, Beijing dapat memilih untuk mengurangi lebih jauh pembelian minyak Iran guna mendinginkan suasana dengan Washington, atau menahan pendapatan dari transaksi tersebut tetap tersimpan di bank-bank China, kata Marks. China juga dapat memperketat pengawasan terhadap komponen buatan China yang memiliki penggunaan ganda dan berpotensi masuk ke program persenjataan Iran menjelang pertemuan kedua pemimpin.
Mengabaikan Trump sepenuhnya berisiko memicu perlawanan dari pemimpin AS tersebut beberapa pekan sebelum pertemuan 24 September di Washington yang dirancang untuk mempertahankan gencatan senjata perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Jelang pertemuan tersebut, China sudah mengurangi pembelian minyak mentah Iran yang didiskon karena blokade angkatan laut AS yang menyempitkan pasokan.
Di luar itu, keputusan terkait sanksi yang lebih berat dibayangi oleh monopoli China atas sejumlah mineral kritis. Beijing mendominasi rantai pasok logam tanah jarang (rare earths) global yang sangat vital untuk memproduksi berbagai barang, mulai dari ponsel hingga rudal. Xi menggunakan instrumen tersebut tahun lalu untuk menghentikan perang tarif yang dilancarkan pemimpin Partai Republik itu, dan sejak saat itu strategi ini efektif menjaga koridor relasi kedua negara.
Menggarisbawahi keinginan bersama untuk mencegah hubungan makin memburuk, AS berencana membatasi tarif atas lonjakan kapasitas (overcapacity) China pada tingkat yang sebelumnya telah disetujui Beijing, menurut pejabat yang mengetahui masalah tersebut. Pengumuman resmi diperkirakan akan disampaikan sebelum KTT berlangsung.
Bessent sendiri mengisyaratkan keinginan AS untuk menghindari gejolak ekonomi yang lebih besar pada Senin lalu, dengan menyampaikan kepada wartawan bahwa ia tidak "ingin merusak sistem keuangan global." Pernyataan tersebut muncul di tengah melonjaknya biaya pinjaman jangka panjang AS ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Media pemerintah China memanfaatkan hambatan domestik yang dihadapi pembuat kebijakan AS. "AS terjebak dalam krisis yang diciptakannya sendiri," tulis China Daily dalam editorialnya pekan ini, mengutip harga bensin di AS yang menembus US$4 per galon dan utang nasional yang telah melewati ambang batas US$40 triliun. Di bawah tekanan tersebut, AS mencoba "tampak lebih kuat dengan mengancam lawan asingnya," tambah tulisan itu.
Washington kemungkinan paham bahwa China tidak akan menuruti permintaan Amerika terkait Iran, tetapi berharap dapat mendorong Beijing untuk memberikan beberapa konsesi kecil, kata John Gong, profesor di University of International Business and Economics di Beijing.
"Iran telah dikenakan sanksi begitu lama dan negara itu tidak pernah tunduk. Mengapa kali ini akan berbeda?" tambah Gong, yang pernah bekerja sebagai konsultan untuk Kementerian Perdagangan China.
Para pejabat China juga memiliki alasan tersendiri untuk menginginkan stabilitas global, karena lonjakan harga berisiko merusak permintaan ekspor yang sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi mereka.
Setiap konsesi besar terkait Iran kemungkinan membutuhkan tawaran AS dengan nilai yang setara. Taiwan tetap menjadi garis merah paling sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara. Beijing berulang kali menuntut Washington menghentikan penjualan senjata kepada negara pusat industri cip tersebut. Paket senjata AS senilai US$14 miliar untuk Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri masih tertunda, meski Partai Komunis China menganggap pulau itu sebagai wilayahnya dan tidak pernah memerintahnya.
Diplomasi memberi Xi cara lain untuk terlihat berkontribusi dalam mencari solusi atas perang. Pejabat China, termasuk Xi, baru-baru ini menggelar pembicaraan dengan para pemimpin Yordania, Kuwait, dan negara-negara Arab lainnya.
China juga dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi dengan negara-negara Arab tahun ini. Sementara itu, pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgizstan pekan depan dapat memberikan Xi kesempatan baru untuk bertemu dengan perwakilan Iran.
Pada akhirnya, kegagalan Bessent mengambil tindakan yang lebih tegas mendorong China melihat AS sebagai negara yang kewalahan akibat gejolak pasar obligasi, kekhawatiran domestik terkait keterjangkauan biaya hidup, dan sengketa dagang baru dengan Kanada, kata Derek Scissors dari American Enterprise Institute.
“Beijing tentu tidak akan bergerak lebih dulu,” tambahnya. “AS harus menunjukkan komitmen terhadap kebijakan baru tersebut, sesuatu yang sejauh ini belum dilakukan—dan sesuatu yang jarang dilakukan Trump.”
(bbn)



























