Hari ini, pemerintah juga melakukan peletakan batu pertama terhadap PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp. Khusus untuk Bali, pemeirintah meluncurkan 1.000 MW ditambah baterai.
"Saya tidak tahu kenapa angka 5,3, tapi saya tahu bahwa 5 tambah 3 hasilnya nanti Bapak Presiden sendiri yang bisa menjelaskan gitu," ujar Bahlil.
Bahlil mengatakan program ini berpotensi menghemat Rp73,9 triliun per tahun dari penggunaan PLTS dan penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy strorage system (BESS) dibandingkan dengan menggunakan diesel.
Pemerintah juga menargetkan program ini mampu menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja. Bila pemerintah mampu mengimplementasikan proyek ini, maka diperkirakan terdapat penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp6,31 triliun.
"Untuk PLTS-nya saja yang sekarang kita resmikan, itu nilainya itu kurang lebih sekitar 5 sampai 6 sen. Namun itu belum termasuk baterai. Nah baterainya ditambah lagi. Nah baterainya tergantung, mau 4 jam, mau 24 jam, itu harganya akan mengikuti tentang lama daripada pemakaian baterai itu."
"Tim yang akan melakukan tender nantinya sesuai dengan arahan Bapak Presiden kami laporkan bahwa ini yang pertama adalah kita dorong IPP. Kalau harganya kompetitif kita kasih IPP. Kalau tidak kompetitif dan tidak ada yang mau, maka kita akan ambil alih untuk dikerjakan oleh pemerintah lewat Danantara dengan pembiayaan yang sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden yang efisien, efektif, dan terjangkau."
(dov/ros)


























