Logo Bloomberg Technoz

China juga memperketat kontrol ekspor terhadap produk dual-use, yakni barang yang dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer.

Kabar mengenai kunjungan tersebut pertama kali dilaporkan media lokal Jepang, termasuk stasiun televisi Nippon TV, dengan mengutip sejumlah sumber. Peserta kunjungan antara lain Gaku Hashimoto dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa dan Shinichi Isa dari Centrist Reform Alliance, partai oposisi.

Hashimoto, yang tidak menjadi bagian dari kabinet Takaichi, juga mengunjungi Beijing pada Juni untuk menghadiri acara terkait rantai pasok.

Dalam unggahan di X, Isa menggambarkan hubungan Beijing dan Tokyo berada dalam “kondisi terburuk sejak 1972”, dengan pertukaran pemerintah, bisnis, budaya, dan pemuda “terhenti sepenuhnya”.

“Situasi ini berlanjut bukan demi kepentingan nasional Jepang maupun China,” tulisnya. “Dalam diskusi dengan sesama anggota Diet, kami menyimpulkan bahwa, bagaimanapun situasinya, diperlukan ruang untuk dialog antara kedua negara, dan kami memutuskan mengusulkan kepada China agar kami berkunjung untuk mendorong pertukaran pandangan.”

Unggahan Isa mengonfirmasi bahwa kunjungan tersebut merupakan inisiatif anggota Diet dan bukan atas undangan Departemen Internasional Partai Komunis China, seperti yang sebelumnya diberitakan, termasuk oleh NTV.

“Saya tidak berpikir delegasi ini akan secara berarti memperbaiki hubungan bilateral, tetapi tidak diragukan lagi merupakan tanda positif bahwa pejabat dalam sistem China secara perlahan mengeksplorasi jalur untuk meredakan ketegangan,” kata Jeremy Chan, analis senior China dan Asia Timur Laut di Eurasia Group.

“Ini juga dapat menjadi pengakuan tersirat Beijing bahwa kampanye tekanannya terhadap Tokyo telah berbalik merugikan dan Takaichi kemungkinan akan tetap menjabat setidaknya satu tahun lagi,” tambahnya.

Sejumlah upaya Jepang untuk kembali menjalin hubungan dengan China menghadapi kesulitan untuk dilanjutkan atau justru diredam oleh Beijing.

Pada Januari, kelompok pengusaha Jepang terkemuka akhirnya menunda kunjungan yang direncanakan ke Beijing. Ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari 13 tahun kebuntuan politik mengganggu misi tahunan kelompok tersebut untuk mendorong pertukaran ekonomi.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengatakan dirinya secara tidak sengaja bertemu dengan mitranya dari China di sela-sela pertemuan ASEAN di Manila. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian kemudian mengatakan China “tidak memiliki agenda” dengan pejabat Jepang dalam pertemuan tersebut.

Pada Mei, Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa mengatakan dirinya sempat berbincang dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di sela-sela pertemuan regional para menteri perdagangan di Suzhou. Pejabat China kemudian membantah pertemuan tersebut terjadi.

Kunjungan ke China oleh delegasi Jepang yang diorganisasi Association for the Promotion of International Trade, yang semula dijadwalkan pada Juni, ditunda setelah ketua organisasi sekaligus mantan Menteri Luar Negeri Jepang Yohei Kono meninggal dunia. Kunjungan tersebut kemudian dijadwalkan ulang pada paruh kedua September.

Meski demikian, terdapat sedikit harapan bagi hubungan bilateral setelah misi diplomatik Jepang di Chongqing, kota besar di China barat daya, yang tidak memiliki konsul jenderal selama sekitar delapan bulan ketika ketegangan meningkat, akhirnya mengisi posisi tersebut. Shigehiro Nishiumi mulai menjabat pada 4 Agustus.

KTT APEC yang dijadwalkan berlangsung di Shenzhen pada November juga dapat menjadi peluang untuk memperbaiki hubungan, terutama jika pertemuan bilateral antara Xi dan Takaichi berlangsung.

Pada Juli, Ketua Kamar Dagang dan Industri Jepang di China Tetsuro Homma mengatakan KTT APEC juga dapat menjadi kesempatan untuk memulihkan hubungan bisnis.

“Saya tidak bisa mengatakan apa pun dengan pasti mengenai dimulainya kembali pertukaran, tetapi saya ingin melanjutkan langkah apa pun yang dapat kita lakukan,” kata Homma kepada wartawan saat itu.

(bbn)

No more pages