Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa target ambisius seperti pencapaian satu juta unit mustahil terwujud dalam waktu dekat tanpa adanya perluasan pabrik dan dukungan non fiskal yang solid.
Ia memperingatkan bahwa kendala birokrasi justru dapat mengancam target minimal yang telah ditetapkan.
“Kalau implementasi insentif terlambat atau mekanismenya rumit, target 100 ribu unit pun berpotensi tidak tercapai,” tegasnya.
Adapun, terkait dengan langkah pemerintah yang memangkas besaran subsidi menjadi Rp3 juta per unit motor, CORE Indonesia mengidentifikasi adanya dilema antara efisiensi anggaran negara dan kesiapan pasar.
Kebijakan ini dinilai berada di posisi yang serba salah karena belum mampu memberikan dampak elektoral yang kuat bagi calon pembeli.
“Pemangkasan insentif lebih mencerminkan kehati-hatian fiskal dan keterbatasan sisi penawaran. Pemerintah memang perlu menjaga ruang APBN, tetapi di sisi lain insentif yang terlalu kecil membuat konsumen menanggung risiko adopsi yang lebih besar,” ujar Yusuf.
“Dibandingkan insentif Rp7 juta pada 2023 dan 2024 yang terbukti mendorong permintaan, stimulus kali ini hanya memberi potongan sekitar 10% hingga 15%dari harga motor listrik entry level,” ungkap Yusuf.
Melihat kecilnya proporsi pemotongan harga tersebut, Yusuf meragukan insentif baru ini mampu merubah pemikiran masyarakat kelas menengah ke bawah untuk beralih dari motor berbahan bakar minyak.
“Jadi, dampaknya kemungkinan lebih bersifat simbolis daripada mampu mengubah keputusan pembelian secara signifikan,” tambahnya.
Pandangan dari ekonom CORE ini sejalan dengan pernyataan yang disampaikan oleh pihak pemerintah sebelumnya. Pemerintah mengakui bahwa daya serap anggaran insentif kendaraan listrik terhambat oleh keterbatasan produksi dari pabrikan lokal.
Menteri Keuangan Purbaya menuturkan bahwa daya serap insentif hingga akhir tahun diperkirakan tidak akan mencapai target awal sebesar satu juta unit.
"Itu masih kita lihat apakah daya serapnya cukup tahun ini untuk menyerap semua uang itu. Kayaknya sih enggak. Kapasitas produksi motor nasional belum sampai satu juta. Ada yang cuma 20 ribu," kata Purbaya di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Oleh karena itu, pemerintah memproyeksikan realisasi penjualan motor listrik bersubsidi pada tahun ini hanya akan menyentuh kisaran angka 100 ribu unit.
"Saya pikir paling 100 ribu sampai akhir tahun," ujarnya.
(smr/ell)






























