Adapun, perdagangan saham BTEL digembok Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 27 Mei 2019 lantaran kinerja perseroan yang terpuruk sejak 2010. Belakangan, BTEL juga terancam terdepak dari lantai bursa atau delisting.
Kendati demikian, manajemen berupaya untuk memperbaiki kinerja keuangan dan operasional perusahaan untuk tetap bertahan di bursa.
BTEL kini mengelola delapan pilar bisnis utama mencakup telekomunikasi korporat, layanan TI dan egineering, IT Managed services, boardcast equipment, content production services, mmultiplexing serta digital media agency.
Lewat surat kepada otoritas bursa, Corporate Secretary BTEL Purwoko Suatmadji mengatakan perseroannya telah memperbaiki kinerja laporan keuangan periode 2019-2024.
“Saat ini perseroan sedang melakukan proses audit laporan keuangan tahun buku 2025 yang diproyeksikan selesai pada bulan Juli 2026,” kata Purwoko dikutip dari keterbukaan informasi.
Adapun, pelaksanaan obligasi wajib konversi kepada kreditur PKPU menjadi bagian dari rencana perseroan untuk memperbaiki laporan keuangan BTEL tahun ini.
Selain Protelindo, lengan investasi grup Djarum lainnya PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) juga akan ambil bagian dalam OWK dengan 250,8 juta saham BTEL.
Adapun, afiliasi bisnis tower Grup Djarum lainnya yang akan mengesekusi OWK di antaranya PT Solusi Tunas Pratama (SUPR) dan PT Sarana Inti Persada. Bagian OWK SUPR sebesar 888,12 juta saham dan Sarana Inti Persada sebanyak 35,5 juta.
Sementara itu, dua perusahaan lain yang akan mengambil bagian saham BTEL lewat OWK di antaranya PT Komet Infra Nusantara dan PT Reka Jasa Akses. Adapun, PT Komet Infra Nusantara mengambil 47,35 juta saham dan Reka Jasa Akses sebesar 247,49 juta saham.
Setelah tambahan saham hasil konversi itu, total saham BTEL kini mencapai 44,64 miliar saham per 20 Agustus 2026.
Mengutip data pemegang saham, PT Bakrie Global Ventura dan Biofuel Indo Sumatra masing-masing memegang 6,89% dan 8,21% saham BTEL. Struktur pemegang saham itu menempatkan Anindya Novyan Bakrie sebagai penerima manfaat akhir BTEL.
Selanjutnya, Huawei Tech Investment, Mahindo Agung Sentosa dan Best Quality Global masing-masing memegang 16,15%, 13,05% dan 5,77% saham BTEL.
Sementara itu, Jasa Investindo, Indo Kreasi Pratama, UBS AG menghimpit 4,21%, 3,93% dan 3,37% saham BTEL. Sementara itu, Kejaksaan Agung dan Asuransi Jiwa IFG masing-masing menghimpit3,22% dan 3,02% saham BTEL.
(naw)
































