“Setelah disinsentif, banyak model motor listrik masih terasa lebih mahal atau setara motor bensin sekelasnya, sementara risiko baterai, home charging, bengkel, dan pasar bekasnya belum teratasi,” tutur Yannes.
Faktor kebiasaan masyarakat yang cenderung memilih produk dengan rekam jejak teruji juga menjadi tantangan besar bagi penetrasi kendaraan listrik di tanah air.
“Budaya membeli yang sudah terbukti juga masih kuat di segmen ini. Sehingga Rp3 juta hanya sedikit membantu, tetapi belum menutup gap psikologis dan finansial yang membuat mayoritas segmen pasar massal ini berpotensi tetap bertahan di motor bensin,” pungkasnya.
Untuk diketahui, sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut telah menyiapkan anggaran program insentif pembelian motor listrik sebesar Rp3 triliun dengan besaran insentif yang disiapkan sebesar Rp3 juta per unit atau turun dari rencana awal yang disebut-sebut mencapai Rp5 triliun.
"Iya itu programnya, jadi 1 juta itu pasti enggak habis tahun ini kan kalau kita lihat. Kalau nggak salah masing-masing insentif Rp3 juta ," kata Purbaya di JCC, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Selain itu, salah satu pertimbangannya adalah kapasitas produksi motor listrik nasional yang dinilai belum mampu mencapai 1 juta unit dalam setahun.
"Kapasitas produksi motor nasional belum sampai 1 juta kan, ada yang cuma 20.000 saya pikir paling 100.000 sampai akhir tahun. Jadi nanti saya pikirkan apa bisa ditambah. [Tapi] yang sekarang [tengah disiapkan] kalo 1 juta [motor], itu [insentif] Rp3 juta," tegasnya.
Di sisi lain, Public Relation & Event Executive Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Riniwaty Sinaga mengatakan turunnya insentif menjadi Rp3 juta per unit dari sebelumnya Rp5 juta tetap akan berdampak terhadap penjualan motor listrik.
Pasalnya, besaran bantuan pemerintah berkaitan langsung dengan keterjangkauan harga kendaraan bagi konsumen.
Oleh karena nya, ia bersama Aismoli berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS), untuk melihat dampak perubahan besaran insentif terhadap pasar.
"Kalau memang pemerintah mengatakan September, ya kami ikut. Intinya, tapi kalau tadi [ditanya] apakah efektif ya menurut kami sih kurang, tapi kami tetap berjibaku untuk men-support supaya sebanyak mungkin industri bisa mendapatkan manfaat dari kuota subsidi yang digelontorkan pemerintah," pungkasnya saat dihubungi beberapa waktu lalu.
(ain)



























