Sepanjang pekan lalu, harga emas membukukan kenaikan hampir 6% secara point-to-point.
Sentimen yang menjadi pengungkit harga emas akhir-akhir ini adalah langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) yang membeli kembali (buyback) obligasi. Upaya ini dilakukan untuk menekan imbal hasil (yield) surat utang sehingga meringankan beban pemerintah.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi lebih menguntungkan saat imbalan dari aset lain turun.
“Langkah Departemen Keuangan adalah sinyal yang amat penting buat emas. Bahkan emas menjadi aset yang paling diuntungkan, sementara dolar AS akan membayar harganya,” kata Bhanu Baweja, Chief Strategist di UBS Group AG, dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
Seiring dengan penurunan yield obligasi, dolar AS pun bergerak melemah. Sepanjang pekan lalu, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah nyaris 1%.
Emas juga merupakan aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika mata uang Negeri Adikuasa terdepresiasi, maka emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.
(aji)

























