Sebaran pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 41.427 jiwa, disusul Nagekeo sebanyak 34.256 jiwa, dan Manggarai Timur sebanyak 31.372 jiwa. Wilayah lain seperti Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada juga menampung puluhan ribu warga terdampak di lokasi-lokasi pengungsian.
Guna mencukupi kebutuhan warga di pengungsian, arus distribusi logistik terus digencarkan melalui jalur udara. Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma menerbangkan ratusan ton bantuan menuju titik-titik penyaluran utama di Nusa Tenggara Timur.
"Secara kumulatif sejak 15 hingga 22 Agustus 2026, total bantuan logistik yang telah didistribusikan mencapai 954 ton melalui 68 sorti penerbangan," ungkap Posduklognas dalam laporan tertulisnya.
Penanganan darurat di lapangan turut melibatkannya ribuan personel gabungan yang terdiri atas unsur TNI, Polri, serta ratusan relawan dari puluhan organisasi kemanusiaan. Dukungan fasilitas kesehatan juga disiagakan untuk memperkuat pelayanan medis bagi para korban gempa NTT.
Adapun, pada hari kedelapan pascagempa, pelayanan medis diperkuat dengan beroperasinya Kapal Republik Indonesia (KRI) dr. Suharso 990 yang bersandar di Pelabuhan Reo.
Kapal rumah sakit milik TNI AL tersebut dilengkapi fasilitas tindakan medis besar dan ruang rawat inap berkapasitas 75 pasien, serta telah mendirikan dua rumah sakit lapangan di Kecamatan Reok.
Selain itu, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga milik Alumni Universitas Airlangga juga bersandar di Teluk Nangalirang untuk melayani warga Manggarai Timur.






























