Otoritas di Sharjah dan Dubai tidak segera menanggapi permintaan komentar, sementara otoritas di Abu Dhabi, ibu kota UEA, menolak memberikan informasi. The New York Times pertama kali melaporkan masalah tersebut.
UEA telah menjadi salah satu basis terpenting Binance, dengan menyediakan lisensi regulasi, investasi, serta tempat tinggal bagi salah satu pendiri perusahaan, Changpeng Zhao, saat bursa tersebut membangun kembali bisnisnya setelah penyelesaian kasus pidana senilai US$4,3 miliar dengan AS pada 2023. Zhao sendiri mengaku bersalah karena gagal mempertahankan program anti-pencucian uang yang efektif dan sempat menjalani hukuman penjara terkait kasus tersebut. Presiden Donald Trump memberikan pengampunan kepada Zhao, yang dikenal dengan nama CZ, pada tahun lalu.
Belakangan, Binance mendapat sorotan setelah muncul laporan bahwa perusahaan tersebut membantu menyalurkan US$1 miliar ke Iran, yang melanggar aturan sanksi AS, serta memberhentikan staf kepatuhan yang sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai hal tersebut. Binance berulang kali membantah tuduhan tersebut, yang kemudian memicu penyelidikan oleh anggota parlemen AS serta otoritas regulator.
Pertemuan dengan kepolisian di UEA baru-baru ini menjadi perkembangan baru bagi Binance di negara yang selama ini memiliki hubungan relatif baik dengan perusahaan tersebut.
Pada Desember, Binance mengumumkan telah memperoleh sejumlah lisensi regulasi penting di Abu Dhabi Global Market, zona ekonomi khusus di ibu kota UEA. CZ telah tinggal di Dubai sejak 2021 dan memperoleh kewarganegaraan UEA. Lahir di China dan pernah berkarier di Singapura, New York, serta Tokyo, ia semakin tertarik dengan UEA karena sikap negara tersebut yang terbuka terhadap kripto.
Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, anggota keluarga kerajaan yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional UEA, pernah menyampaikan pandangan positif mengenai “peran mata uang digital yang semakin besar dalam mengubah sistem keuangan.”
Hubungan dengan UEA
Belum jelas apakah penyelidikan yang dilakukan kepolisian setempat di UEA merupakan kasus yang berdiri sendiri atau akan mulai mempersulit hubungan yang telah dibangun Binance dengan otoritas di negara tersebut selama bertahun-tahun.
Masing-masing emirat memiliki kepolisian sendiri, sementara kewenangan regulasi keuangan terbagi di antara berbagai otoritas. Penyelidikan di Sharjah atau Dubai tidak berarti Binance menghadapi tindakan regulasi yang lebih luas, dan rincian mengenai pengaduan tersebut belum diketahui publik.
“Kami terbiasa dengan jenis proses hukum tertentu di AS dan cara memperoleh informasi yang mungkin tidak sepenuhnya sama dengan praktik di yurisdiksi lain,” kata Rebecca Rettig, pengacara di Arktouros yang pernah mewakili perusahaan kripto dan perusahaan keuangan lainnya dalam penyelidikan internasional.
UEA telah menjadi sekutu AS dalam perang berbulan-bulan dengan Iran dan dalam beberapa pekan terakhir semakin kuat menyelaraskan kebijakannya dengan kepentingan AS. Trump dan keluarganya juga memiliki hubungan bisnis di emirat tersebut.
Sebagai contoh, MGX, dana investasi milik pemerintah Abu Dhabi, menginvestasikan US$2 miliar ke Binance menggunakan token dari World Liberty Financial Inc., perusahaan yang didirikan bersama oleh Trump dan hingga kini sebagian masih dikelola oleh putra-putranya.
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut, belum pernah ada karyawan Binance yang ditahan di UEA sebelum insiden baru-baru ini. Dua dari karyawan yang dimintai keterangan merupakan staf level menengah, sementara seorang lainnya pernah mengelola anak perusahaan Binance di Dubai, tetapi meninggalkan perusahaan tersebut awal tahun ini, kata sumber lain yang mengetahui masalah tersebut.
Ketika para karyawan tersebut ditahan, mereka menghubungi rekan-rekan lain di Binance untuk meminta bantuan, menurut sejumlah sumber. Salah satu dari mereka ditahan semalam, tetapi ketiganya diperbolehkan pergi setelah proses pemeriksaan selesai.
(bbn)

































