Logo Bloomberg Technoz

Sementara lewat Pertamina, "sekarang sedang mengembangkan industri logam tanah jarang yang nanti ujungnya bisa menjadi permanent magnet."

Selain itu, dari sisi tembaga (copper), Ardi mengatakan material tersebut dapat diolah menjadi copper wire untuk kemudian digunakan dalam pembuatan brushless DC motor. Komponen motor tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh PT Pindad.

"Seperti saya sampaikan tadi, pemerintah harus hadir. Kebetulan pemerintah punya tangan Danantara, dan kami punya ekosistem yang siap mendukung. Makanya izin Bapak, kami mendorong ini ke pemerintah, karena konsepnya adalah kalau mau membangun industri, ekosistemnya harus hadir," tegasnya. 

Atas dasar itu, Danantara berupaya mengambil peran sebagai agregator dan integrator dengan mengajak sejumlah mitra potensial untuk membentuk konsorsium motor listrik nasional.

Salah satu persyaratan yang didorong Danantara adalah kepemilikan hak kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) dan desain kendaraan oleh perusahaan di dalam negeri.

Dia mencontohkan Alva dan Gesits yang dinilai telah memiliki desain serta IP sendiri. Menurutnya, kepemilikan desain dan kemampuan riset dan pengembangan (R&D) menjadi penting apabila pemerintah memberikan dukungan kepada industri.

"Prinsip dari luar itu kalau R&D harus dilakukan sendiri. Kita sama. Kalau pemerintah memberikan support, kita ingin support yang bisa mendesain sendiri. Punya desainnya," ujarnya. 

Selain desain, perusahaan yang masuk dalam ekosistem tersebut juga diharapkan memiliki kemampuan manufaktur, lini produksi, dan rantai pasok sendiri. Danantara juga berharap penggunaan produk dari Indonesia Battery Corporation (IBC) dapat mendorong terbentuknya rantai nilai baterai nasional.

Meski demikian, Ardi mengatakan pengembangan ekosistem motor listrik masih menghadapi tantangan berupa skala ekonomi atau economy of scale.

Dengan demikian, menurutnya pemerintah perlu mempertimbangkan dukungan berupa subsidi untuk membantu industri mencapai skala ekonomi tersebut. 

Sehingga, produk motor listrik nasional dapat memiliki posisi yang lebih kompetitif dibandingkan kendaraan listrik dengan teknologi baterai lain maupun kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).

"IBC bercerita bahwa economy of scale itu hanya tercapai apabila bisa dua gigawatt atau sekitar satu juta motor yang laku."

"Kalau satu juta motor yang laku, itu masih agak lama. Nah, bagaimana prosesnya supaya economy of scale dapat? Nah, itulah kemudian mungkin kita membutuhkan subsidi sehingga playing field-nya bisa sama dengan LFP atau dengan ICE," pungkasnya.

Adapun tiga pendekatan utama yang dirancang Danantara untuk mempercepat transformasi industrialisasi berbasis teknologi sebagaimana dalam slide paparan yang ditampilkan Ardi yakni resource-driven dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki negara melalui penguasaan teknologi dan pendalaman rantai nilai. 

Selanjutnya, demand-driven yang dimaksudkan untuk mengganti produk impor besar dan strategis lewat produksi domestik yang kompetitif secara teknologi.

Terakhir, mengamankan industri yang dianggap penting bagi ketahanan serta keamanan negara dengan pengusasaan teknologi inti melalui strategic-driven. 

Strategi-strategi tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dari penetapan kebutuhan strategis nasional (use case), pembangunan proyek prioritas (anchor project), pemetaan rantai nilai dan teknologi, penguatan kolaborasi lintas sektor, hingga penyediaan komitmen modal, regulasi, dan pengembangan talenta domestik.

Ekosistem mobility dan kendaraan listrik (EV) menjadi salah satu dari lima sektor fokus utama industrialisasi tersebut. 

(ain)

No more pages