Logo Bloomberg Technoz

Baik Trump maupun Bessent tidak merinci secara pasti tindakan apa yang akan mereka ambil atau negara mana saja yang bakal ditargetkan. Meski demikian, peringatan keras tersebut langsung mengarahkan sorotan utama ke China, yang membeli porsi terbesar dari minyak Iran. Harga minyak mentah jenis Brent pun menguat untuk hari kelima ke level sekitar US$94 per barel, mencatatkan angka tertinggi sepanjang bulan ini.

Saat ditanyai pada Kamis (20/8) mengenai apakah China akan menjadi target, Bessent menjawab bahwa "banyak pembicaraan sebaiknya dilakukan secara tertutup," sembari menambahkan bahwa semua pihak menginginkan Selat Hormuz yang krusial itu kembali dibuka untuk lalu lintas komersial. Bessent mencatat bahwa China memperoleh sebagian besar pasokan energinya dari kawasan tersebut, seraya menambahkan "hal itu akan sangat membantu mereka jika mau menyelaraskan diri dengan program ini."

Dalam reaksi pertamanya terhadap pernyataan Trump, Beijing menegaskan bahwa sanksi dan tekanan tidak akan membuahkan hasil, serta menyerukan penyelesaian secara diplomatik. Sementara itu, pihak Iran menyatakan bahwa ancaman Trump merupakan "pengalihan isu" dari krisis dalam negeri Amerika sendiri yang tengah dibelit lonjakan utang tak tertandingi dan membumbungnya biaya suku bunga.

"Menggandakan kebijakan yang gagal hanya akan mendatangkan kekalahan yang lebih besar—dan permusuhan dari rakyat Iran," tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di platform X. "Terorisme ekonomi AS mengancam perekonomian global serta kedaulatan di seluruh dunia."

Iran telah bertahan dan mampu beradaptasi dengan sanksi ekonomi yang berat selama puluhan tahun, sehingga tidak jelas hukuman ekonomi baru apa lagi yang dapat dijatuhkan AS yang belum pernah dialami oleh Teheran. Menargetkan penjualan minyak Iran juga berisiko memicu konfrontasi baru dengan China, sekaligus menyulitkan upaya Trump untuk memperpanjang gencatan senjata tarif dengan Presiden Xi Jinping, yang dijadwalkan mengunjungi AS bulan depan.

"Saya tidak berpikir ada solusi ajaib di sini," ujar Daniel Fried, mantan Duta Besar AS untuk Polandia, kepada Bloomberg Television. "Apakah ada tekanan lebih besar yang dapat kita terapkan terhadap perekonomian Iran? Mungkin saja. Namun, saya kira mereka telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi dengan sangat baik saat ini. Daya tawar kita tidak terlalu besar dalam jangka pendek."

Pernyataan Trump mengindikasikan bagaimana AS, yang kini didera keterbatasan amunisi dan membengkaknya biaya, ingin bergeser dari kampanye militer yang telah melumpuhkan sebagian besar pemimpin puncak Iran serta memukul perekonomiannya, tetapi sejauh ini belum berhasil memaksa negara tersebut bertekuk lutut.

China tidak mengakui sanksi sepihak, namun entitas-entitas negaranya umumnya menjauhi minyak yang masuk dalam daftar hitam. Bank-bank BUMN terbesarnya juga memiliki rekam jejak mematuhi sanksi AS terhadap Iran, Korea Utara, bahkan para pejabat tinggi di Hong Kong, demi menghindari risiko kehilangan akses ke sistem penyelesaian dolar AS.

Washington sendiri telah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa kilang independen dan perusahaan-perusahaan China sejak AS melancarkan perang melawan Iran pada akhir Februari lalu. Namun sejauh ini, AS masih menahan diri untuk tidak menargetkan bank-bank besar China yang membiayai perdagangan tersebut.

Pada Mei lalu, China memerintahkan perusahaan-perusahaan domestik untuk tidak mematuhi sanksi AS terhadap lima kilang minyak, sementara bank-bank terbesarnya berada dalam posisi serba salah di antara arahan Beijing dan risiko kehilangan akses ke sistem keuangan AS.

"Sanksi dan tekanan tidak akan membantu menyelesaikan masalah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian kepada para wartawan di Beijing pada Kamis (20/8). "China mengimbau pihak-pihak terkait untuk mengambil langkah-langkah yang bertanggung jawab dan berupaya menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik dan politik."

Trump menuntut seluruh negara untuk berhenti memberikan akses bagi Iran ke tempat penukaran uang, transfer tunai, jalur swap, pendaftaran kapal, perusahaan cangkang, dan jalur-jalur untuk menyelundupkan minyaknya. Ia juga berupaya menggalang dukungan dari negara-negara lain yang sejauh ini menolak mendukung perangnya melawan Republik Islam tersebut, dengan menyatakan bahwa AS membutuhkan seluruh sekutunya untuk membantu "mengisolasi dan mengalahkan ancaman Iran."

AS mendapat dukungan pada Selasa ketika Uni Emirat Arab (UEA) memutus hubungan ekonomi dengan Iran setelah menuduh negara itu menembakkan dua rudal balistik ke wilayah perairan teritorialnya. Iran sendiri membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut.

UEA tercatat sebagai mitra dagang utama Iran pada tahun lalu, di mana Teheran sangat mengandalkan hubungan tersebut untuk mengakses barang-barang luar negeri dan valuta asing, diikuti oleh China, Turki, dan India.

Tujuan Trump adalah memaksa Iran masuk ke meja perundingan baru yang ditujukan untuk mengakhiri perang secara permanen, memaksa Teheran menghentikan program nuklirnya, serta menghentikan cengkeramannya di Selat Hormuz. Poin-poin tujuan tersebut sempat dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua belah pihak pada Juni lalu, namun kemudian runtuh di tengah aksi saling serang balasan.

Iran telah bertahan dari sanksi ekonomi selama berdekade-dekade, dan responsnya adalah mengajukan tuntutannya sendiri, termasuk pencairan aset-asetnya yang dibekukan, penghentian sanksi, serta ganti rugi atas kerusakan akibat perang.

Penyelesaian konflik ini menjadi kian mendesak bagi Trump seiring aksinya menghadapi tingginya harga bensin, kian tidak populernya perang di mata publik, serta kekhawatiran Partai Republik akan kehilangan kontrol atas salah satu atau kedua kamar di Kongres pada pemilu sela (midterm elections) November mendatang. Awal pekan ini, ia bahkan sempat mengancam akan membom Oman—sekutu Amerika yang kerap berperan sebagai mediator—jika negara itu dinilai menghalangi langkah AS.

Ancaman Iran terhadap pelayaran komersial telah melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz, sementara blokade balasan yang diperintahkan Trump telah membatasi secara ketat kemampuan Iran untuk mengekspor minyaknya sendiri.

Perang yang kini mendekati genap enam bulan tersebut beserta blokade yang menyertainya telah memicu inflasi hingga hampir 80% di Iran, dan mata uangnya telah kehilangan hampir 30% nilainya terhadap dolar sepanjang tahun ini. Para ekonom pun memperingatkan bahwa konflik ini berisiko menyeret negara berpenduduk 90 juta jiwa tersebut ke dalam salah satu krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya.

(bbn)

No more pages