Perhatian selanjutnya beralih ke sentimen global, terutama setelah risalah rapat The Fed dirilis. Perkembangan tersebut akan menentukan arah yield US Treasury, dolar AS, serta minat investor terhadap aset berisiko.
"Fokus pasar selanjutnya tertuju pada dampak FOMC Minutes terhadap yield US Treasury, dolar AS, dan appetite investor terhadap aset berisiko," ujar Reza.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai koreksi IHSG saat ini masih merupakan fase cooling down setelah reli penguatan. Momentum bullish dinilai belum berakhir, meski investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko eksternal.
Di pasar global, penurunan yield US Treasury setelah US Treasury menggandakan ukuran buyback obligasi tenor panjang memberikan ruang bagi aset berisiko. Namun, tekanan inflasi masih menjadi perhatian seiring kenaikan harga energi, di mana harga Brent telah berada di kisaran US$91-92 per barel di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian terkait Selat Hormuz.
"Risiko inflasi ini dinilai semakin tidak pasti, terutama dipicu dinamika ketegangan geopolitik dan konflik di Selat Hormuz yang berpotensi melambungkan harga energi serta mengganggu rantai pasok global," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta.
Di dalam negeri, rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per dolar AS setelah keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan. Mirae Asset menilai kebijakan tersebut memberi ruang bagi BI untuk tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan inflasi.
"Keputusan ini dapat dibaca positif karena BI memiliki ruang untuk memprioritaskan stabilitas nilai tukar setelah sebelumnya melakukan kenaikan suku bunga. Hal ini memberikan bantalan stabilitas jangka menengah bagi makroekonomi domestik, khususnya sektor perbankan," ujar Nafan.
(dhf)



























