Logo Bloomberg Technoz

Dua gubernur regional lainnya yang tidak memiliki hak suara pada Juli, yaitu Jeff Schmid dari Kansas City dan Kepala Fed St. Louis Alberto Musalem, sejak saat itu memberikan sinyal bahwa mereka juga akan mendukung kenaikan suku bunga dalam rapat tersebut.

Sebagian besar perdebatan kebijakan dalam pertemuan Juli berpusat pada beragamnya proyeksi terkait inflasi.

"Sebagian besar peserta memperkirakan inflasi akan menurun di sisa tahun ini seiring memudarnya dampak tarif dan kenaikan harga energi sebelumnya, namun banyak peserta mencatat kemungkinan bahwa inflasi dapat bertahan di tingkat yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama," tulis risalah tersebut.

Dalam istilah teknis pengukuran kata di internal The Fed yang digunakan dalam risalah, kata "banyak" (many) mengacu pada kelompok yang jumlahnya hampir separuh dari total 19 pembuat kebijakan, termasuk para pejabat yang tidak memiliki hak suara dalam keputusan suku bunga.

'Sangat Tidak Pasti'

Risalah tersebut menunjukkan bahwa proyeksi inflasi para peserta berada dalam kondisi "sangat tidak pasti" dan eskalasi ulang perang Iran "memperkeruh prospek inflasi."

Para pejabat menggambarkan pasar tenaga kerja relatif stabil, dengan tingkat penawaran dan permintaan tenaga kerja berada dalam posisi seimbang.

Dalam pernyataan setelah rapat yang hampir identik dengan pernyataan mereka pada Juni, para pejabat mengulang kembali komitmen mereka untuk "mewujudkan stabilitas harga." Mereka juga terus mengategorikan pertumbuhan ekonomi sebagai kondisi yang "solid" sambil mencatat bahwa investasi modal dan pertumbuhan produktivitas berada dalam tren kuat.

Hasil pemungutan suara pada Juli ini menandai kelima kalinya secara berturut-turut para pejabat memilih untuk membiarkan suku bunga tidak berubah, menyusul tiga kali pemotongan pada akhir 2025.

Kritik Terhadap Konferensi Pers

Gubernur The Fed Kevin Warsh menuai kritik tajam atas penampilannya dalam konferensi pers setelah rapat, di mana ia dinilai gagal menjelaskan alasan dasar di balik keputusan komite untuk mempertahankan suku bunga. Ia juga menghindari indikasi apa pun bahwa komite mungkin harus menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, serta mengisyaratkan bahwa target inflasi FOMC dapat diubah pada Januari mendatang.

Para investor merespons hal tersebut dengan mendorong imbal hasil (yield) obligasi bertenor panjang ke level tertinggi dalam hampir dua dekade, yang menjadi sinyal potensial menurunnya kepercayaan pasar terhadap komitmen The Fed dalam mencapai target inflasi 2%. Kendati demikian, tidak semua indikator ekspektasi inflasi melonjak secara signifikan. Selisih (spread) antara imbal hasil obligasi biasa dan obligasi AS yang dilindungi inflasi untuk tenor lima tahun mendatang hanya melebar secara tipis.

Namun, sejak keputusan kebijakan Juli dirilis, data-data baru secara luas mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi belakangan ini, yang akan mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Penjualan ritel merosot pada Juli dengan penurunan terbesar dalam lebih dari satu tahun seiring konsumen yang menahan belanja di toko online dan dealer mobil. Inflasi inti untuk bulan Juli juga terpantau mereda.

Pada saat yang sama, para pemberi kerja secara mengejutkan memangkas lapangan kerja pada Juli dan data perekrutan dua bulan sebelumnya direvisi melandai, yang mengindikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja ternyata lebih lemah dari perkiraan sebelumnya.

Respons para investor terlihat dari penurunan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga pada tahun ini. Harga pada kontrak berjangka federal funds hingga Rabu pagi mengindikasikan peluang kenaikan sebesar 36% pada September, merosot drastis setelah sempat menembus angka lebih dari 70% pada akhir Juli.

Frekuensi Pertemuan FOMC

Risalah tersebut juga menunjukkan bahwa Warsh mengusulkan untuk mengurangi jumlah pertemuan kebijakan tahunan komite dari delapan menjadi enam kali.

"Gubernur mengamati bahwa enam pertemuan terjadwal per tahun, yang diadakan kira-kira setiap dua bulan sekali, akan memungkinkan lebih banyak akumulasi informasi di antara jeda pertemuan dibandingkan praktik saat ini, serta memberikan pembuat kebijakan dan staf lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan isu-isu strategis kebijakan moneter," tulis risalah tersebut.

Warsh kemudian meminta masukan dari komite mengenai gagasan itu. Risalah menegaskan bahwa jumlah pertemuan tidak akan diubah pada tahun ini. Pengurangan jumlah pertemuan kebijakan akan menjadi perubahan signifikan dalam cara bank sentral beroperasi.

Penerbitan risalah ini hadir hanya seminggu menjelang pertemuan tahunan Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming, di mana Warsh diperkirakan bakal menyampaikan pidato pertamanya sejak menjabat sebagai ketua bank sentral pada Mei lalu.

(bbn)

No more pages