Keputusan ini konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, dan mempertahankan inflasi 2026 dan 2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus–minus 1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Destry menjelaskan BI juga akan terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Kemudian, meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan serta mempercepat pendalaman di pasar uang dan pasar valas.
Sebelumnya, survei yang dihimpun Bloomberg terhadap 35 ekonom dan analis menghasilkan median proyeksi BI Rate di 5,75%, dengan rata-rata sedikit lebih tinggi dari 5,75%. Estimasi terendah berada di 5,75%, sementara estimasi tertinggi mencapai 6%.
Dengan begitu, pasar sebenarnya hampir bulat memprediksi BI mempertahankan acuan di 5,75%. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil di rentang Rp17.800-17.900/US$ sepanjang Agustus menjadi fondasi kebijakan ini.
“Keputusan BI ini sesuai dengan pandangan kami, di mana kami menilai BI akan memasuki fase wait and see setelah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin (bps) sejak Mei,” sebut Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya.
Namun, Panin Sekuritas melihat bahwa BI melempar sinyal yang agak hawkish dengan menyebut tren yield obligasi dunia kian naik didorong oleh ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve dan pelebaran defisit fiskal AS. Oleh karena itu, Panin Sekuritas memperkirakan BI masih punya ruang untuk menaikkan suku bunga acuan.
"Kami tetap mempertahankan pandangan kami mengenai BI Rate yang masih memiliki ruang kenaikan hingga 6,25% pada tahun ini,” papar Panin Sekuritas.
(fad/aji)



























