Logo Bloomberg Technoz

"Cincin Api Pasifik adalah zona berbentuk tapal kuda sepanjang kurang lebih 40.000 kilometer di sekitar cekungan Samudra Pasifik. Jalur ini merupakan titik pertemuan berbagai lempeng tektonik dunia yang terus bergerak dan saling bertabrakan (zona subduksi)," jelas Wijayanto ketika dihubungi Kompas.com pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Wilayah Indonesia yang Masuk Jalur Cincin Api

Pacific Ring of Fire membentang melewati sejumlah wilayah di dunia. Jalurnya dimulai dari belahan bumi selatan, kemudian bergerak ke berbagai kawasan di sekitar Samudra Pasifik hingga kembali ke wilayah selatan.

Di Benua Amerika, jalur tersebut melewati pesisir barat Amerika Selatan, termasuk Chile dan Peru. Selanjutnya, jalur bergerak menuju Amerika Tengah hingga pesisir barat Amerika Serikat dan Kanada.

Pada bagian utara, Cincin Api Pasifik memasuki Semenanjung Alaska dan Kepulauan Aleut. Jalur kemudian berlanjut menuju kawasan Asia dan Oseania.

Di kawasan tersebut, jalur Cincin Api Pasifik melewati pesisir timur Rusia, Jepang, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, hingga Selandia Baru. Indonesia menjadi salah satu negara yang berada tepat di jalur pertemuan sejumlah lempeng tektonik.

Indonesia berada di kawasan pertemuan Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Interaksi antarlempeng tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya aktivitas kegempaan di berbagai daerah.

"Karena Indonesia berada tepat di jalur ini (pertemuan Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik), negara kita memiliki banyak gunung api aktif dan sangat rawan terhadap gempa tektonik maupun vulkanik," kata Wijayanto.

Peneliti Bidang Geologi dan Kebencanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menyebut sejumlah provinsi Indonesia yang berada atau berkaitan dengan jalur Cincin Api Pasifik.

Daerah tersebut mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Wilayah lainnya meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Maluku Utara.

Jalur tersebut juga mencakup Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, serta Papua Pegunungan. Daftar ini menggambarkan luasnya wilayah Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan Cincin Api Pasifik.

Namun, daftar provinsi tersebut bukan berarti bersifat mutlak. Pemekaran wilayah administratif membuat penyebutan provinsi dapat berubah dari waktu ke waktu.

"Bisa jadi ada provinsi yang terlewat tersebutkan, apalagi karena ada pemekaran provinsi," kata Nuraini ketika dihubungi Kompas.com pada Senin, 17 Agustus 2026.

Indonesia Tidak Bisa Lepas dari Risiko Gempa

Keberadaan Indonesia di kawasan Pacific Ring of Fire membuat masyarakat perlu memahami bahwa gempa merupakan salah satu risiko alam yang harus diantisipasi. Aktivitas tektonik tidak dapat dihentikan, sehingga kesiapan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana.

Wijayanto menekankan bahwa potensi gempa bumi, termasuk ancaman gempa megathrust, perlu disikapi dengan kesiapsiagaan. Masyarakat tidak dianjurkan menghadapi potensi tersebut dengan kepanikan.

"Bahwa potensi gempa, termasuk ancaman gempa Megathrust, adalah fakta geologis yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan," jelas Wijayanto.

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengenali risiko lingkungan sekitar. Masyarakat perlu mengetahui apakah tempat tinggal, tempat kerja, atau lokasi aktivitas sehari-hari berada di kawasan rawan gempa, likuifaksi, maupun tsunami.

"Ketahui apakah area tempat tinggal atau tempat kerja Anda berada di zona rawan gempa, rawan likuifaksi, atau rawan tsunami. Tentukan titik kumpul dan jalur evakuasi," ungkapnya.

Selain mengenali lingkungan, kondisi bangunan juga perlu diperhatikan. Rumah maupun bangunan tempat masyarakat beraktivitas sebaiknya dibangun atau diperkuat dengan memperhatikan standar bangunan tahan gempa.

Penataan perabot rumah juga menjadi bagian sederhana dari mitigasi. Perabotan berukuran besar dan berat disarankan ditempelkan pada dinding atau ditempatkan di bagian bawah sehingga risiko roboh ketika terjadi guncangan dapat dikurangi.

Siapkan Tas Siaga untuk Kondisi Darurat

Kesiapsiagaan juga dapat dilakukan dengan menyiapkan tas yang mudah dijangkau ketika gempa terjadi. Tas tersebut sebaiknya berisi berbagai kebutuhan penting yang dapat digunakan selama kondisi darurat.

Beberapa perlengkapan yang dapat dimasukkan antara lain dokumen penting, perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan atau P3K, air minum, makanan tahan lama, senter, baterai cadangan, dan peluit.

Keberadaan tas tersebut dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar apabila harus meninggalkan rumah atau menghadapi kondisi darurat setelah gempa.

Selain perlengkapan fisik, keluarga juga perlu memiliki rencana evakuasi. Setiap anggota keluarga sebaiknya mengetahui tempat berkumpul dan jalur yang harus digunakan ketika terjadi bencana.

Latihan secara berkala juga penting agar setiap orang tidak kebingungan ketika menghadapi situasi sebenarnya. Simulasi dapat dilakukan bersama keluarga, lingkungan tempat tinggal, maupun di kantor.

"Lakukan simulasi evakuasi bersama keluarga/lingkungan/kantor agar tidak panik saat keadaan darurat sesungguhnya terjadi," pungkas Wijayanto.

Rangkaian gempa yang terjadi di Indonesia pada Agustus 2026 kembali menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana. Dengan posisi Indonesia yang berada di kawasan Pacific Ring of Fire, aktivitas gempa menjadi salah satu ancaman yang perlu dipahami masyarakat.

Meski tidak seluruh wilayah memiliki tingkat risiko yang sama, masyarakat tetap perlu mengenali kondisi lingkungan masing-masing. Informasi mengenai potensi gempa, tsunami, dan bencana geologi lainnya juga sebaiknya diperoleh dari sumber resmi.

Pemahaman mengenai jalur Cincin Api Pasifik bukan bertujuan untuk menimbulkan ketakutan. Sebaliknya, informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi masyarakat untuk melakukan mitigasi dan mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi.

Kesiapan bangunan, jalur evakuasi, tas siaga, serta simulasi bersama dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko. Dengan persiapan yang baik, masyarakat di wilayah rawan dapat menghadapi gempa dengan lebih tenang dan terarah.

(seo)

No more pages

Artikel Terkait