Hal ini terutama disebabkan oleh lonjakan impor yang tajam, di mana laju pertumbuhannya pada Juni 2026 meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat yang tercatat pada bulan sebelumnya.
Dari sektor keuangan, kombinasi antara kebijakan the Fed untuk menahan suku bunga acuannya dan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang berlangsung cukup mulus memicu terjadinya arus modal masuk ke Indonesia.
Menurutnya BI juga masih memiliki ruang untuk menahan BI Rate seiring dengan meredanya tekanan eksternal secara temporer akibat tensi geopolitik di Timur Tengah yang relatif terkendali dalam beberapa minggu terakhir.
Kombinasi dari terjaganya tekanan eksternal dan perkembangan positif dalam transisi kepemimpinan di Bank Indonesia ini menurutnya menciptakan momentum yang positif terhadap Rupiah.
“Mepertimbangkan berbagai aspek tersebut, Bank Indonesia tidak terlalu tertekan untuk meningkatkan suku bunga acuan demi mendukung nilai tukar Rupiah,” sebut Jahen.
Kondisi ini cukup relevan menimbang Bank Indonesia sebelumnya sudah menaikkan BI Rate sebesar 100 bps di beberapa bulan terakhir.
“Oleh karena itu, Bank Indonesia sebaiknya menahan suku bunga acuannya di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur mendatang guna menjaga ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan di masa mendatang,” sebutnya.
Mempertahankan suku bunga tersebut menurutnya juga menjadi upaya untuk menghindari penambahan tekanan yang tidak perlu terhadap sektor riil, karena hal itu akan meningkatkan biaya pendanaan.
(ell)






























