Logo Bloomberg Technoz

Sugianto juga menjelaskan telah terjadi peningkatan alokasi pasokan gas untuk pasar dalam negeri jika dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya.

“Tahun lalu [pasar] domestik konsisten menyerap 8 kargo sesuai rencana. Untuk tahun ini alokasinya naik signifikan menjadi 15 kargo,” jelasnya.

Untuk alokasi dalam negeri, DSLNG menyalurkan seluruh pasokan gas kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN, yang kemudian akan didistribusikan kembali untuk mendukung kelistrikan nasional melalui PT PLN (Persero).

“Nanti PGN yang kasih ke PLN. Atau kadang pernah terjadi mereka [PGN] beli itu satu kargo, lalu dibagi oleh mereka [ke PLN],” ungkapnya.

Untuk diketahui, gas alam cair tersebut dimanfaatkan oleh PLN sebagai bahan bakar utama untuk mengoperasikan mesin turbin dan generator gas di berbagai pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).

Langkah ini menjadi bagian dari program gasifikasi pembangkit guna menjamin ketersediaan pasokan listrik yang stabil bagi masyarakat.

Sebagai informasi, PT Donggi Senoro LNG merupakan pelopor pengelolaan gas alam cair di Indonesia yang mengoperasikan kilang LNG komersial independen pertama tanpa keterlibatan langsung pemerintah dengan fokus bisnis berada pada industri hilir migas (downstream).

DSLNG berdiri di atas lahan seluas 318 hektare (ha) dan beroperasi dengan satu rangkaian fasilitas produksi (single train) dengan kapasitas produksi hingga 2,1 juta ton per tahun, atau setara dengan 40—41 kargo LNG dengan volume muatan 125.000 meter kubik per kargo.

Fasilitas pendukung di area kilang meliputi unit utility support, area proses produksi (train), satu tangki penyimpanan LNG, serta satu dermaga (jetty) khusus LNG.

Selain itu, kilang ini juga dilengkapi dengan fasilitas pengolahan kondensat yang memiliki dua tangki penyimpanan dan satu dermaga khusus kondensat.

Dari segi bisnis, kepemilikan saham DSLNG dipegang oleh konsorsium nasional dan internasional.

Sebanyak 59,9% dipegang oleh Sulawesi LNG Development Ltd. (SLD) yang dibentuk oleh konsorsium asal Jepang yaitu Mitsubishi Corporation sebesar 75% dan Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC) sebesar 25%.

Kemudian, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi LNG Sulawesi memegang 29% saham dan PT Medco LNG Indonesia (MLI) menguasai 11,1% saham.

Keberlanjutan operasional kilang DSLNG ditopang oleh pasokan gas dari dua blok hulu migas utama di Sulawesi Tengah, yaitu Blok Senoro-Toili yang dikelola oleh joint operating body Pertamina-Medco Tomori Sulawesi (JOB PMTS) dan Blok Matindok yang dikelola oleh PT Pertamina EP.

Adapun, gas alam dari kedua blok tersebut dialirkan melalui jaringan pipa menuju kilang DSLNG untuk memenuhi kapasitas produksi tahunan.

(smr/wdh)

No more pages