Meskipun ekspektasi pasar menjadi kurang hawkish, menurut Goldman, masih ada ruang bagi penyesuaian posisi pasar tersebut untuk terus berlanjut.
Spekulasi mengenai kebijakan The Fed sangat krusial bagi pasar obligasi pemerintah global, mengingat langkah kebijakan AS cenderung memengaruhi suku bunga di seluruh dunia.
Investor obligasi Treasury kini dihadapkan pada dua kekuatan yang saling bertentangan: inflasi yang melandai kembali meningkatkan daya tarik kepemilikan obligasi, sementara besarnya pinjaman pemerintah dan kekhawatiran fiskal yang terus berlanjut menekan pembeli untuk menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi memegang utang bertenor panjang.
Kata Ahli Strategi Bloomberg...
“Meski imbal hasil obligasi tenor pendek dapat didukung oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga tahun ini, imbal hasil obligasi tenor panjang tetap rentan”
—Edward Harrison, analis Markets Live
Ketegangan tersebut berisiko membuat imbal hasil obligasi tenor panjang tetap tinggi, meski tekanan harga mereda, sehingga melemahkan reli yang biasanya dipicu oleh melambatnya inflasi.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun—salah satu yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan AS—tetap di atas 4%, karena investor mempertimbangkan apakah dan kapan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga lagi.
Kurva imbal hasil Treasury AS kemungkinan akan semakin curam didorong oleh membaiknya inflasi, berkurangnya premi risiko kenaikan suku bunga, serta berita anggaran yang mengkhawatirkan, menurut catatan Goldman.
"Setelah dua bulan data ketenagakerjaan dan inflasi yang jauh lebih lemah, sulit membayangkan kubu yang mendukung kebijakan longgar (doves) akan beralih mendukung kenaikan suku bunga," tulis Hatzius, merujuk pada para pejabat The Fed yang memiliki hak suara dalam keputusan suku bunga tahun ini.
(bbn)































