"Tampaknya ada momentum untuk mencapai level tersebut," ujar David Wilson, kepala strategi logam di BNP Paribas SA, seraya menyoroti potensi harga tembaga di London akan melampaui puncak tertingginya pada Januari.
"Harga mulai memasuki wilayah overbought (jenuh beli), tetapi saya tidak yakin apakah hal itu relevan saat ini, mengingat betapa ketatnya kondisi pasar."
Harga kontrak berjangka tiga bulan naik hingga 1,7% menjadi US$14.396 per ton di LME, melanjutkan tren kenaikan selama tujuh pekan berturut-turut. Lonjakan ini membawa harga mendekati level puncak US$14.527,50.
Persediaan yang dipantau LME telah menyusut menjadi sedikit di atas 200.000 ton, volume terendah sejak Februari.
Melebarnya backwardation dapat menandakan terjadinya ‘market squeeze’, di mana pemegang posisi short—atau pihak yang bertaruh pada penurunan harga—harus membeli kembali kontrak dengan harga yang terus melonjak, atau bergegas mengamankan logam fisik untuk pengiriman kontrak.
Salah satu keunikan situasi saat ini adalah total persediaan global sebenarnya tidak terlalu rendah; hanya saja, stok tersebut terkonsentrasi di AS—di luar jaringan LME—karena para pedagang bertaruh bahwa Presiden Donald Trump akan mengenakan tarif impor terhadap logam olahan tersebut. Selain itu, permintaan di China juga tidak terlihat terlalu kuat.
Gedung Putih terus membuat pasar berspekulasi mengenai rencana pengenaan bea atas tembaga olahan; belum ada pengumuman yang muncul meski sudah lewat sekitar tujuh minggu dari tenggat waktu bagi Departemen Perdagangan untuk memberikan rekomendasi. Sementara itu, arus pasokan ke AS terus berlanjut seiring pasar yang mulai memperhitungkan potensi penerapan tarif tersebut.
Karena selisih harga tunai terhadap kontrak tiga bulan melonjak, perhatian kini tertuju pada kemungkinan masuknya lebih banyak pasokan tembaga dari China, yang kerap terjadi selama periode backwardation ekstrem dan kelangkaan pasokan jangka pendek.
"Biasanya, kita akan memperkirakan adanya peningkatan pengiriman tembaga dari China ke LME," ujar Wilson dari BNP. "Namun masalahnya, mengapa harus mengirim ke LME jika logam tersebut masih bisa dikirim secara efektif ke pasar AS?"
Pergerakan harga tembaga menjadi yang paling signifikan dalam pembukaan perdagangan yang positif bagi enam logam utama di LME; harga kontrak berjangka naik 1,4% menjadi US$14.364 per ton pada pukul 13.32 waktu Singapura.
Harga aluminium naik 0,4% dan seng naik 0,7%, di mana kenaikan ini juga didorong oleh melemahnya nilai tukar dolar AS—faktor yang menguntungkan komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut.
(bbn)






























