Selain itu, pengguna juga mulai merasakan penghematan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dalam survei tersebut, pekerja yang menggunakan AI dalam sepekan terakhir ditanya mengenai tambahan waktu yang kemungkinan dibutuhkan jika pekerjaan mereka dikerjakan tanpa bantuan AI.
Sebanyak 31% mengatakan AI menghemat waktu kerja selama satu hingga dua jam. Kemudian 15% menyebut AI menghemat tiga hingga empat jam, sementara 15% lainnya mengatakan waktu yang dihemat lebih dari empat jam. Sebanyak 25% pekerja mengatakan AI menghemat waktu kurang dari satu jam.
Namun, tidak seluruh penggunaan AI menghasilkan penghematan waktu. Sekitar 10% mengatakan AI tidak menghemat waktu, sedangkan 3% justru membutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dari sisi frekuensi, sekitar 24% pekerja yang menggunakan AI mengatakan mereka memakainya setiap hari dalam sepekan terakhir. Sebanyak 46% menggunakannya setidaknya satu hari tetapi tidak setiap hari, sedangkan 30% tidak menggunakan AI sama sekali dalam periode tersebut.
Tingkat pendidikan juga berkaitan dengan penggunaan AI di tempat kerja. Pekerja dengan gelar sarjana atau lebih tinggi tercatat lebih banyak menggunakan AI dibandingkan kelompok dengan tingkat pendidikan lebih rendah.
Untuk tugas menginterpretasikan, menerjemahkan atau merangkum informasi, misalnya, 46% pekerja dengan gelar sarjana atau lebih tinggi, menggunakan AI untuk pekerjaan tersebut. Angkanya turun menjadi 25% pada pekerja dengan sebagian pendidikan tinggi atau gelar associate, serta 16% pada pekerja dengan ijazah sekolah tingkat atas atau pendidikan lebih rendah.
Perbedaan juga terlihat dari frekuensi penggunaan. Sebanyak 75% pekerja dengan gelar sarjana atau lebih tinggi mengatakan menggunakan AI setidaknya satu hari dalam sepekan terakhir. Angka tersebut mencapai 62% untuk pekerja dengan sebagian pendidikan tinggi atau gelar associate dan 59% untuk pekerja dengan pendidikan SMA atau lebih rendah.
Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan dalam jenis tugas yang dibantu AI. Sekitar 42% pekerja pria menggunakan AI untuk mencari informasi atau bantuan teknis, dibandingkan 31% pekerja perempuan.
Untuk menginterpretasikan, menerjemahkan atau merangkum informasi, penggunaannya mencapai 34% pada pekerja pria dan 28% pada pekerja perempuan.
Frekuensi penggunaan harian juga berbeda. Sekitar 30% pekerja pria yang menggunakan AI mengatakan mereka memakainya setiap hari dalam sepekan terakhir. Pada pekerja perempuan, angkanya 17%. Sementara itu, 29% pekerja pria dan 32% pekerja perempuan mengatakan tidak menggunakan AI dalam sepekan terakhir.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan usia. Pekerja berusia 18-49 tahun lebih banyak menggunakan AI untuk empat dari lima tugas pekerjaan yang paling umum dibandingkan pekerja berusia 50 tahun ke atas. Pada pekerjaan menulis, dokumentasi atau instruksi, misalnya, 34% pekerja berusia 18-49 tahun menggunakan AI. Pada kelompok usia 50 tahun ke atas, angkanya 29%.
Untuk penggunaan harian, 26% pengguna AI berusia 18-49 tahun mengatakan memakai AI setiap hari dalam sepekan terakhir. Angka tersebut sebesar 20% pada pengguna berusia 50 tahun ke atas.
Census Bureau mengatakan survei HTOPS dilakukan setiap dua bulan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi sosial dan ekonomi rumah tangga di AS. Dalam survei Maret 2026 tersebut, penggunaan AI ditanyakan untuk 11 jenis tugas pekerjaan.
(fik/wep)
































