Berdasarkan data Bloomberg, IHSG merah sendirian dari banyaknya bursa Asia yang menghijau. KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), TAIEX (Taiwan), TOPIX (Jepang), CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), Shanghai Comp. (China), SETI (Thailand), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), KOSDAQ (Korea), dan Hang Seng (Hong Kong), yang berhasil menguat.
Bursa saham Asia berhasil melaju positif senada dengan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, Nasdaq Composite dan S&P 500 naik 0,54%, dan 0,26%.
Investor merespons positif data inflasi AS yang memberikan sedikit kelegaan bagi investor setelah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja sebelumnya juga telah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga.
“Data inflasi ini, ditambah laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari estimasi sebelumnya, mungkin dapat membuat pejabat The Fed yang hawkish menahan diri pada September,” ujar Gary Schlossberg, Global Strategist di Wells Fargo Investment Institute, seperti dikutip dar Bloomberg News.
Angka-angka tersebut memberi The Fed lebih banyak ruang untuk menimbang tekanan inflasi terhadap perlambatan penyerapan tenaga kerja yang terjadi baru–baru ini, saat mereka memperdebatkan apakah akan menaikkan biaya pinjaman pada pertemuan 15-16 September mendatang.
“Ini kabar baik bagi pejabat The Fed yang ingin bersabar dalam situasi ini,” kata Oscar Munoz, Kepala Ekonomi AS di TD Securities, melansir Bloomberg News.
Data ini sepertinya bakal semakin meyakinkan The Fed untuk tidak tergesa-gesa menaikkan suku bunga acuan. Berdasarkan CME FedWatch Tools, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4% pada rapat September adalah 34%. Turun dibanding posisi kemarin yaitu 48,4% dan seminggu lalu di 55%.
(fad/aji)





























