Logo Bloomberg Technoz

Hanya saja, spread yang menjadi indikator utama profitabilitas bisnis petrokimia telah turun ke bawah level siklus normal atau mid-cycle awal paruh kedua tahun ini.

Laba bersih TPIA pada kuartal II-2026 sebesar US$137 juta, turun 6% secara kuartalan (qoq), tetapi berbalik positif dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu (yoy).

Di sisi lain, EBITDA TPIA pada kuartal II-2026 menunjukkan pola serupa, turun 38% secara kuartalan namun balik positif secara tahunan.

Analis JP Morgan menerangkan perbaikan kinerja secara tahunan itu didorong oleh kilang minyak Aster, yang masih menikmati tingginya margin pengilangan atau refining margin akibat konflik di Timur Tengah.

“Penurunan EBITDA secara kuartalan sudah kami perkirakan, mengingat keuntungan persediaan yang tinggi pada kuartal I 2026, sementara profitabilitas kuartal II-2026 kemungkinan tertekan oleh premi harga minyak mentah yang tetap tinggi,” kata analis JP Morgan.

Saham TPIA telah mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 24% dalam satu bulan terakhir seiring momentum kinerja yang tetap positif.

Dengan asumsi saham diperdagangkan berdasarkan bisnis pengilangannya, valuasi TPIA saat ini mencapai sekitar US$61 juta enterprise value (EV) per ribu barel per hari (kbd) kapasitas kilang 237 kbd.

“Angka tersebut premium dibandingkan perusahaan pengilangan di Asia Pasifik yang diperdagangkan pada kisaran US$10–25 juta per kbd,” dikutip dari riset JP Morgan.

Oversupply Petrokimia

Manajemen TPIA belakangan mengatakan pasar petrokimia masih menantang lantaran kelebihan pasokan dari China dan permintaan yang melemah di Asia Tenggara.

Kendati demikian, Direktur Keuangan TPIA Andre Khor berpendapat pasar petrokimia mulai memasuki fase konsolidasi saat ini. Andre berharap pasar petrokimia akan mulai pulih pada 2027-2028.

“Kami mulai melihat proses konsolidasi di industri ini, dengan makin banyak kapasitas yang ditutup atau dirampingkan seperti yang terjadi di China, Korea Selatan dan Jepang,” kata Andre saat earning calls daring, Selasa (4/8/2026).

Di sisi lain, Andre menambahkan, margin kilang minyak justru mencatatkan pertumbuhan impresif tahun ini. Hanya saja, margin bisnis petrokimia masih di bawah tekanan lantaran pasar yang oversupply.

“Sebelum perang, margin kilang hanya berada pada kisaran satu digit. Kini kami berhasil membukukan margin sekitar US$30–US$40 per barel,” kata Andre.

Dia memperkirakan margin kilang minyak ini akan mengalami konsolidasi akhir tahun ini. TPIA memproyeksikan margin kilang minyak akan bertahan di kisaran US$20 per barel sampai US$30 per barel.

Belakangan, TPIA memperkuat porfolio di industri kimia dengan membangun pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC). Kontruksi proyek ini telah mencapai 72% dengan target operasi komersial pada 2027.

Selain itu, TPIA turut mencapai keputusan investasi akhir (FID) untuk proyek ekspansi ekspor C2 senilai US$80 juta. Proyek ini akan memperkuat integrasi antara operasi Aster di Singapura dnegna platform kimia hilir Chandra Asri di Indonesia.

— Dengan asistensi Cahya Puteri Abdi Rabbi

(naw)

No more pages