Arab Saudi telah menggelar pembicaraan yang dimediasi Oman secara berkala dengan kelompok Houthi sejak gencatan senjata tahun 2022. Kini, Riyadh ingin mengendalikan kelompok Houthi dan melindungi pelabuhan-pelabuhannya di Laut Merah, jalur ekspor sebagian besar minyaknya mengingat Selat Hormuz secara efektif ditutup.
Pejabat pemerintah Arab Saudi, dalam pernyataannya kepada Bloomberg, mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan dengan kelompok Houthi di Muscat, ibukota Oman, maupun melalui perantara mana pun. Pemerintah Oman tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Kelompok Houthi mendesak agar Riyadh memberikan lebih banyak konsesi ekonomi, kata para sumber tersebut. Sejak gencatan senjata empat tahun lalu, kelompok tersebut berulang kali menyatakan bahwa Arab Saudi harus membayar bagi sebagian pegawai negeri Yaman dan mencabut semua pembatasan terhadap barang dan orang yang masuk ke wilayah yang dikuasai Houthi sebagai bagian dari perdamaian yang langgeng.
Langkah diplomasi ini menyoroti dilema yang dihadapi Mohammed bin Salman pasca kelompok Houthi membuka front baru dalam perang melawan Iran dengan mengancam kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan kerajaan.
Arab Saudi ingin menanggapi serangan Houthi tanpa terseret ke dalam pertempuran baru. Kesepakatan tahun 2022 itu terjadi setelah kampanye pengeboman yang berlangsung bertahun-tahun dan gagal, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, guna menggulingkan Houthi—kelompok yang merebut ibu kota Yaman, Sanaa, tak lama setelah perang saudara meletus pada 2014. Mereka juga menguasai pelabuhan strategis Hodeida di Laut Merah.
Para pejabat AS secara senyap telah memberi tahu agar Arab Saudi tidak melakukan pembalasan militer besar-besaran terhadap serangan Houthi terhadap kapal-kapal di lepas pantai Laut Merah, menurut para diplomat regional dan Barat.
Washington, kata mereka, khawatir bahwa memburuknya pertikaian antara Arab Saudi dan Houthi akan semakin mengganggu pasar pengiriman dan energi global, serta berpotensi menutup Selat Bab el-Mandeb, titik krusial lain yang vital bagi aliran energi. Harga minyak telah melonjak 35% tahun ini terutama karena penutupan Selat Hormuz.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar mengenai percakapan diplomatik tertutup tersebut. Washington berkomitmen untuk mendukung Arab Saudi melawan Houthi dan terus berkonsultasi erat dengan Riyadh, kata juru bicara tersebut.
Kampanye militer yang lebih luas berisiko menyeret Arab Saudi semakin dalam ke dalam konflik regional dengan Iran. Riyadh harus mempertahankan diri dari serangan rudal dan drone Iran selama puncak perang pada bulan Maret dan awal April. Baru-baru ini, kelompok Houthi dan milisi yang didukung Iran di Irak telah menembakkan proyektil ke fasilitas perminyakan Arab Saudi, termasuk kilang-kilang minyak.
Ekonomi Arab Saudi melemah 4,8% secara tahunan pada kuartal kedua — kinerja terburuknya sejak pandemi Covid-19 — karena perang dengan Iran memaksanya untuk mengurangi ekspor minyak.
“Prioritas kerajaan adalah mencegah eskalasi lebih lanjut sambil menjaga stabilitas regional,” kata Abdulaziz Al Sager, ketua Gulf Research Center, lembaga think tank yang berbasis di Jeddah, Arab Saudi. Pemerintah hanya akan melanjutkan operasi militer yang lebih luas sebagai tanggapan atas “serangan yang tidak dapat dibenarkan” seperti serangan terhadap infrastruktur penting, katanya.
(bbn)
































