Logo Bloomberg Technoz

Dalam paparannya, Andi merinci kinerja operasional pada lima area utama PGEO selama semester I-2026:

1. PLTP Kamojang (Kabupaten Bandung)

Memiliki kapasitas terpasang sebesar 235 megawatt (MW). PLTP Kamojang mengalami pertumbuhan signifikan dengan rata-rata daya operasi mendekati 237 MW atau memanfaatkan hampir 100% load factor.

"Ketika sempat terjadi kendala pasokan energi primer lain, pasokan dari Kamojang dimaksimalkan. Load-nya hampir 100% kami manfaatkan," kata Andi.

2. PLTP Ulubelu (Lampung)

Memiliki kapasitas terpasang terbesar kedua, yakni 220 MW. Ulubelu dan Lahendong mencatatkan kinerja di atas capaian year-on-year (yoy). Khusus Ulubelu, area ini menjadi tulang punggung sistem kelistrikan di Provinsi Lampung.

"Lampung saat ini masih mengimpor sekitar 600 MW dari sistem Sumatra Selatan karena keandalan jaringan belum sepenuhnya optimal. Oleh karena itu, kontribusi 220 MW dari Ulubelu sangat vital," jelasnya.

3. PLTP Lahendong (Sulawesi Utara)

Memiliki kapasitas terpasang sebesar 120 MW dan mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional secara tahunan.

4. PLTP Lumut Balai (Muara Enim, Sumatra Selatan)

Memiliki kapasitas terpasang sebesar 110 MW. Kinerja operasinya melampaui kapasitas terpasang (dioperasikan di atas 100%) dan pertumbuhan produksi listriknya melonjak sekitar 108% yoy.

5. PLTP Karaha (Tasikmalaya)

Memiliki kapasitas terpasang sebesar 50 MW. Meski memiliki kapasitas paling kecil, optimalisasi pembangkitan membuat area ini mampu tumbuh sebesar 23,5%.

Dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PT PLN periode 2025 hingga 2034, ditargetkan porsi EBT mencapai 76%, dengan panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW) selama periode tersebut.

Guna mendukung pencapaian target tersebut, PGEO menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033.

(smr/ros)

No more pages