"Saya pikir saya akan membangun masa depan yang lebih baik di sana. Namun, saya terkejut saat tiba di Ceuta."
Brahim menceritakan bahwa ia bertahan hidup selama tiga hari hanya dengan minum air putih dan tidak mampu membeli makanan yang mahal di wilayah Spanyol tersebut. "Bagaimana bisa roti isi tuna dijual seharga 100 dirham (Rp491 ribu)?”
Dari laporan pandangan mata Reuters, Di Fnideq, kota di Maroko yang berhadapan langsung dengan Ceuta, sudah mulai kosong, pemandangan yang berbeda ketika pada Kamis (30/7) ribuan orang berkumpul untuk menembus perbatasan.
"Ceuta seperti penjara — tidak ada yang bisa dilakukan di sana. Semuanya tutup," ujar seorang pekerja di pelabuhan Tanger Med Maroko, yang enggan disebutkan namanya karena harus kembali bekerja.
Beberapa migran juga menuduh warga El Príncipe, sebuah lingkungan mayoritas Maroko di Ceuta, menyerang atau mengusir mereka. Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Seorang pelayan asal Maroko, Yassine Ichou, menceritakan bagaimana ia dipukul dan diusir dari El Principe.
"Masyarakat setempat mengepung dan memaksa kami keluar dari Ceuta dengan sendirinya ... Rencana mereka berhasil," tambahnya, merujuk pada penutupan toko-toko secara luas.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan bahwa dua orang mengalami luka ringan akibat serangan pisau dalam dua insiden terpisah, dan polisi telah menangkap salah satu penyerang. Pihaknya menambahkan bahwa tidak ada kematian akibat serangan pisau yang tercatat di Ceuta sejak hari Kamis.
Rachid, seorang pekerja di sebuah hotel di Fnideq dekat perbatasan, mengatakan bahwa seluruh enam staf dapurnya pergi ke Ceuta saat puncak gelombang kedatangan migran dan tidak ada satu pun yang kembali, sehingga memaksa pihak manajemen untuk mencari pengganti.
(spt)





























