Jika ditarik pada satu bulan ke belakang, pelemahan rupiah sejatinya relatif terbatas 0,29%, lebih baik dari dolar Taiwan yang melemah 1,3%.
Penurunan harga energi mengurangi kekhawatiran pelaku pasar terhadap membengkaknya tagihan impor migas Indonesia, yang selama beberapa bulan terakhir jadi faktor yang membebani prospek nilai tukar.
Terlebih, berdasarkan konsensus Bloomberg, meski ekspor diperkirakan membaik dari kontraksi 5,73% menjadi 0,4%, tetapi impor tetap tumbuh tinggi sebesar 22,3%. Dengan proyeksi impor yang diperkirakan tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Sehingga, penguatan sore ini sepertinya belum bisa dikatakan perubahan arah dan penguatan rupiah yang lebih berkelanjutan. Sebab, rupiah sore ini juga masih berada di kisaran angka psikologisnya Rp18.000/US$, dan masih mencerminkan tingginya premi risiko yang diminta investor terhadap aset domestik.
Selain itu, risiko inflasi global juga masih menjadi perhatian. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia pada Juli relatif stabil di kisaran 3,31%, secara tahunan. Angka ini sedikit lebih rendah daripada inflasi yang terjadi pada Juni di 3,34%.
Stabilnya angka inflasi ini lebih banyak ditopang oleh efek basis harga pangan, sementara tekanan dari sisi energi diperkirakan masih akan membayangi laju inflasi.
Bloomberg memperkirakan, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi akan merambat ke harga barang dan jasa dalam beberapa bulan mendatang, ditambah adanya potensi kenaikan pangan akibat fenomena El-Nino.
Prospek ini diperkirakan berpotensi membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi kian terbatas. Bahkan jika inflasi Juli masih berada dalam kisaran target, tekanan harga diperkirakan akan kembali meningkat pada paruh kedua tahun ini.
Dengan begitu, penguatan rupiah pada perdagangan terakhir Juli lebih menggambarkan adanya perbaikan sentimen eksternal dengan meredanya harga minyak, daripada perubahan fundamental domestik.
(dsp/aji)






























