Sementara dari sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diproyeksikan semakin melebar menjadi 1,17% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, dan menjadi 1,22% pada 2027. Angka ini lebih besar daripada estimasi sebelumnya.
Konsekuensi yang bisa timbul adalah, rupiah semakin sensitif terhadap perubahan sentimen global. Jika dolar AS menguat, yield obligasi AS terkerek naik, atau ketegangan geopolitik kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat. Seperti yang terjadi belakangan ini.
Fiskal
Dari sisi fiskal, konsensus Bloomberg menilai posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih relatif terjaga. Defisit anggaran diproyeksikan mencapai 2,92% terhadap PDB pada 2026, sebelum sedikit menyempit menjadi 2,89% pada 2027.
Angka tersebut masih berada di bawah batas legal 3% dari PDB, dan mengindikasikan adanya keyakinan pasar bahwa pemerintah bisa tetap menjaga disiplin fiskal, meski sedang menghadapi tekanan belanja yang meningkat.
Namun, ruang fiskal diperkirakan tidak akan terlalu longgar. Pemerintah tetap dihadapkan pada kebutuhan pembiayaan program prioritas, dan perlu mengantisipasi perlambatan penerimaan negara lantaran ada normalisasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi global, khususnya dari mitra dagang utama seperti China.
Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa menjaga disiplin fiskal saja tak cukup untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkualitas. Mengingat Purchasing Managers' Index (PMI) yang menjadi acuan sektor manufaktur berada di zona kontraksi di 46,9.
PMI Manufaktur Indonesia akan kembali dirilis pekan depan bersamaan dengan data dan indikator ekonomi penting lainnya, seperti inflasi dan ekspor-impor.
(dsp/aji)






























