Kpler, perusahaan intelijen pasar, mengatakan 14 kapal pengangkut komoditas melintasi jalur tersebut dalam dua arah pada Rabu, meningkat dari hanya satu digit pada pekan lalu.
Sementara itu, persediaan minyak mentah China yang sangat besar tetap kuat, menunjukkan bahwa pembeli di negara tersebut masih dapat mengandalkan stok yang tersedia sambil menahan impor.
Pasar energi diguncang oleh gelombang volatilitas baru bulan ini ketika investor menghadapi jeda singkat dalam permusuhan antara Teheran dan Washington yang kemudian diikuti oleh kembali pecahnya pertempuran.
Pada Kamis dini hari, AS menyerang puluhan target militer Iran dalam sebuah operasi yang bertujuan mengurangi kemampuan Teheran untuk mengancam pasukan AS, sekutu-sekutunya di negara-negara Arab, serta pelayaran komersial di kawasan tersebut, menurut Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di X.
Hormuz berada di pusat perselisihan tersebut, dengan Teheran bersikeras mempertahankan kendali dan menyerang kapal tanker yang menentang otoritasnya. Untuk menghindari jalur perairan tersebut, Arab Saudi mengalihkan arus minyak melalui pipa East-West yang terhubung ke Laut Merah.
Namun, jalur tersebut kini menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Teheran. Pasukan Riyadh bergabung dengan AS untuk menyerang target-target di Irak yang terkait dengan milisi yang didukung Teheran.
Pasar juga memantau dua serangan terhadap kapal-kapal yang berupaya memuat minyak di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di pesisir Laut Hitam Rusia, yang merupakan jalur ekspor utama minyak mentah Kazakhstan.
Serangan serupa pada pekan lalu menyebabkan pengiriman terhenti selama beberapa hari dan turut mendorong harga minyak menembus US$100 per barel.
“CTA menjadi penjual minyak mentah WTI pada hari ini, tetapi gambaran pasokan terus mengetat,” tulis analis TD Cowen dalam sebuah catatan.
Serangan di terminal CPC “akan terus menyebabkan ekspor minyak mentah Rusia berkurang 1 juta hingga 2 juta barel per hari dibandingkan rata-rata Juni, dan dapat berubah menjadi gangguan yang lebih berkepanjangan jika serangan drone terus berlangsung,” kata mereka.
Sementara itu, Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel hingga 1 September, mendorong harga kontrak berjangka heating oil naik hingga 3,7% pada Kamis.
Kondisi pasar produk olahan yang semakin ketat pada akhirnya dapat menopang harga minyak mentah jika kilang-kilang di negara lain meningkatkan tingkat pengolahan untuk mengimbangi hilangnya pasokan dari Rusia.
(bbn)































