Sikap pasar yang menjual obligasi hingga yield melonjak tajam itu menyiratkan sikap bahwa jika bank sentral enggan memperketat kebijakan moneter ketika diperlukan, maka pasar akan melakukannya sendiri. Dengan begitu, kondisi keuangan jadi lebih ketat meski bank sentral tidak menaikkan suku bunga acuannya.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi itu punya potensi yang lebih berbahaya. Pasar keuangan negara berkembang cenderung sensitif terhadap perubahan sentimen global. Kenaikan yield bisa terjadi lebih tajam daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
Bloomberg Economics menilai, kondisi tersebut perlu jadi pertimbangan penting bagi Presiden Prabowo dalam menentukan pengganti Perry Warjiyo sebagai gubernur BI.
Sebelum mengundurkan diri, Perry Warjiyo sempat menaikkan suku bunga acuan secara kumuatif 100 basis poin (bps) sepanjang Mei hingga Juni 2026 demi menahan pelemahan rupiah.
Kebijakan itu memang membawa konsekuensi. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik dari sekitar 6,8% menjadi 7,3%, dan membuat biaya pinjaman pemerintah pun ikut naik. Sebab, semakin tinggi yield obligasi, semakin besar pula beban bunga yang harus dibayar pemerintah saat menerbitkan utang baru.
Kondisi ini tentu saja berpotensi mempersempir ruang fiskal, karena anggaran negara harus dialokasikan lebih besar untuk pembayaran bunga utang, sementara pemerintah juga membutuhkan dana untuk membiayai berbagai program prioritas serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun, toh suku bunga tinggi itu berhasil menopang rupiah. Di tengah tekanan global, kebijakan BI itu membantu memperbaiki persepsi investor terhadap aset Indonesia.
Sejak BI mulai menaikkan suku bunga pada 20 Mei hingga 24 Juli, sebelum pengunduran diri Perry Warjiyo diumumkan, pasar obligasi domestik mencatat arus masuk dana asing sebesar US$1,4 miliar.
Sebaliknya, sebelum BI memulai siklus pengetatan moneter, Indonesia justru mengalami arus keluar dana asing (net outflow) sekitar US$800 juta dari pasar obligasi sepanjang tahun berjalan.
Artinya, kebijakan menaikkan suku bunga memang meningkatkan biaya pendanaan pemerintah, tetapi di saat yang sama juga membantu menahan pelemahan rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor.
Meski demikian, struktur pasar obligasi Indonesia kini telah banyak berubah dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.
Pada awal 2020, investor asing menguasai sekitar 38,6% kepemilikan SUN. Kini porsinya tinggal 12,9%. Secara nominal, kepemilikan asing juga turun sekitar 15%, dari Rp1.048 triliun pada Februari 2020 menjadi sekitar Rp891 triliun pada Juli 2026.
Penurunan tersebut terjadi karena selama pandemi BI membeli lebih banyak obligasi pemerintah melalui skema burden sharing, sementara investor domestik juga meningkatkan kepemilikannya. Perubahan ini membuat pasar obligasi Indonesia menjadi lebih bergantung pada investor dalam negeri dibandingkan investor asing.
Risiko dari Dalam Negeri
Berkurangnya dominasi investor asing memang memberi keuntungan. Pemerintah dan BI menjadi tidak terlalu rentan terhadap arus modal asing yang keluar secara tiba-tiba.
Namun, menurut Bloomberg Economics, jika prospek ekonomi memburuk, inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, atau dampak El Nino terhadap harga pangan, maka bukan hanya investor asing yang berpotensi mengurangi kepemilikannya. Investor domestik—yang kini menjadi pemegang mayoritas SUN—juga dapat mulai mengurangi eksposurnya terhadap obligasi pemerintah.
Sehingga, tekanan terhadap pasar obligasi bisa datang dari dalam negeri sendiri. Karena itu, Bloomberg Economics menilai pengganti Perry Warjiyo akan menghadapi tugas yang tidak ringan.
Gubernur BI berikutnya harus mampu menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, mempertahankan stabilitas rupiah, dan menjaga kepercayaan investor.
Pengalaman terbaru di AS menunjukkan bahwa ketika bank sentral kehilangan kredibilitas di mata pasar, pasar akan mengambil alih peran tersebut—dan konsekuensinya sering kali jauh lebih mahal dibandingkan langkah pengetatan moneter yang dilakukan secara bertahap dan terukur.
(dsp/aji)




























