Bagi sebagian mata uang kawasan, termasuk rupiah, sentimen eksternal terlihat sedikit mereda dengan langkah The Fed yang menahan suku bunga di kisaran 3,5-3,75%.
Namun bagi rupiah, pergerakan harga minyak yang sudah lebih terbatas tetap membawa risiko terhadap pelebaran defisit neraca perdagangan dan defisit fiskal, lantaran masih berada di atas harga rata-rata yang ditetapkan sebagai asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Kemarin, Bank Indonesia (BI) menekankan akan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar dengan memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing, serta optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing.
Meski begitu, pelaku pasar menilai komitmen BI belum mampu membangun reputasi yang stabil dan berkelanjutan, dan belum cukup untuk sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor.
Sementara dari pasar obligasi, rebound yang kemarin terjadi sudah mulai terpangkas tenaganya pada pagi ini. Melansir data Bloomberg, penurunan yield terlihat menjadi lebih terbatas, dengan yield tenor 1 tahun hanya turun 1 bps menjadi 7,02%, dan tenor acuan 10 tahun turun 0,8 bps menjadi 7,31%.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun hari ini di kisaran 7,35-7.4%. Sementara itu, pergerakan rupiah relatif stabil dan diperkirakan berada di kisaran Rp18.000-18.100/US$.
(dsp/aji)






























