Di tempat terpisah, AS dan Arab Saudi menggempur kelompok yang disokong Iran di Irak, setelah Riyadh menyatakan berhasil mencegat beberapa drone yang diluncurkan oleh kelompok Irak yang mengincar fasilitas minyaknya. Mobilisasi Populer Irak (Popular Mobilization Forces), organisasi payung bagi milisi Syiah di negara tersebut, menyebutkan bahwa serangan gabungan AS-Arab Saudi itu menewaskan 20 orang. Sementara itu, empat anggota IRGC juga dilaporkan tewas, menurut kantor berita Mehr.
Tak hanya itu, kebakaran juga pecah di dua kapal tanker gas alam cair (LNG) di Pelabuhan Damietta, Mesir, yang berada di Laut Mediterania. Perusahaan keamanan maritim Ambrey menyatakan kedua kapal tersebut dihantam drone, terbakar, dan telah ditarik ke luar area pelabuhan. Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Mesir mengonfirmasi bahwa kobaran api berhasil dikendalikan dan tidak ada korban luka.
Rentetan insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah AS dan Iran menyepakati jeda aksi saling serang pada akhir pekan lalu guna memberi ruang bagi penyelesaian diplomatik atas perang yang telah berlangsung selama lima bulan—suatu jeda yang sempat menurunkan harga energi secara signifikan. Namun, masa tenang itu kini tampaknya telah usai.
Harga minyak berjangka terus bergejolak bulan ini seiring dinamika hubungan AS dan Iran yang berayun cepat dari eskalasi ke jalur diplomasi, lalu kembali ke kontak senjata.
“Kami akan membiarkan mereka terus berbicara,” kata Trump kepada Fox News terkait peluang dialog lanjutan dengan Iran. Kendati demikian, prospek dimulainya kembali negosiasi secara formal dinilai kian jauh dari jangkauan.
Kondisi ini membuat konflik diprediksi akan terus berlarut-larut, bahkan hingga berbulan-bulan, mengingat para pihak yang bertikai belum menemukan jalan keluar dari kebuntuan terkait Selat Hormuz, menurut keterangan beberapa pejabat dan mantan pejabat dari AS, Iran, serta Eropa yang meminta tidak disebutkan namanya.
Kembali pecahnya pertempuran ini memicu frustrasi bagi Trump, yang sebelumnya membanggakan penandatanganan kesepakatan damai sementara pada bulan Juni—yang kini dianggap tak lagi berlaku. Di tengah membumbungnya harga bensin di dalam negeri serta meningkatnya penolakan publik Amerika terhadap perang, elektabilitas Trump kian terancam menjelang pemilu sela (midterm elections) pada November mendatang.
Hanya sekitar 34% pemilih AS yang mendukung aksi militer terhadap Iran, sementara lebih dari 60% menolaknya, menurut survei Quinnipiac University yang dirilis Rabu (berdasarkan jajak pendapat 23–27 Juli). Angka ini mencatatkan tingkat dukungan terendah sekaligus gelombang penolakan tertinggi sejak survei mulai dilakukan pada awal Maret, tak lama setelah konflik pecah.
Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa jam setelah Trump sempat menyatakan preferensinya untuk menghindari eskalasi konflik dan menunjukkan nada optimistis atas peluang terobosan diplomatik.
Dampaknya, Selat Hormuz kini secara efektif lumpuh total dengan nyaris tidak ada kapal yang melintas—setidaknya dengan pemancar (transponder) yang aktif. Pada Rabu pagi, IRIB News melaporkan klaim IRGC yang telah "mengahantam dan menghentikan" tiga kapal tanker dalam beberapa jam terakhir karena dinilai "melintas di jalur yang tidak aman dan ilegal."
Pembicaraan antara Iran dan Oman untuk membuka kembali arus pelayaran di jalur vital pasokan energi dan komoditas tersebut dilaporkan menemui jalan buntu. Negosiator Iran menolak usulan Oman untuk membuka jalur perairan yang dikontrol secara seimbang oleh kedua negara, menurut laporan media lokal. Sebaliknya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Teheran menuntut kendali penuh atas kapal-kapal yang memasuki Teluk Persia.
Keterlibatan kelompok Irak—yang sering kali dilatih dan didanai oleh Iran—makin meningkatkan risiko terbukanya medan tempur baru dan melebar perang secara luas. Arab Saudi sendiri tercatat hampir tidak pernah menyerang wilayah Irak dalam beberapa tahun terakhir.
Iran membantah keterlibatan dalam serangan kelompok milisi Irak ke Arab Saudi. “Mengaitkan setiap aksi yang menentang kepentingan AS di kawasan kepada Republik Islam Iran adalah sebuah kekeliruan perhitungan yang besar,” kata seorang sumber yang dikutip IRIB.
Aksi milisi Irak ini menyusul rentetan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dan kapal-kapal di Laut Merah oleh kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Organisasi Islam tersebut pekan lalu mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi dan menghantam beberapa kapal.
Operasi Houthi tersebut membuka medan perang baru dan berpotensi menutup Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah—jalur perlintasan vital lainnya bagi pasar minyak global.
(bbn)






























